11 June, 2014

H-7 Penutupan "Gang Dolly", Aksi Intimidasi Merebak

SURABAYA, KOMPAS.com - Tujuh hari menjelang penutupan lokalisasi pelacuran Dolly di Surabaya diwarnai aksi intimidasi. Intimidasi terjadi terhadap pekerja dan kelompok yang pro penutupan Dolly.

Intimidasi terjadi terutama pada kelompok Pekerja Seks Komersial (PSK) dan mucikari binaan lembaga swasta dan Pemkot Surabaya yang disiapkan khusus untuk dientaskan pada 18 Juni mendatang.

"Bentuk intimidasinya berupa tekanan psikis hingga mengarah pada intimidasi fisik," kata Ketua Muhammadiyah Surabaya, Zayin Chudlori, Rabu (11/6/2014).

Ormas Islam yang dipimpinnya beberapa waktu terakhir memang memiliki kelompok PSK dan mucikari binaan di Dolly. Mereka disiapkan untuk keluar dari lokalisasi, dan dibina menjadi kelompok dengan ekonomi produktif untuk hidup yang lebih baik.

Aksi intimidasi itu sempat terjadi akhir pekan lalu, saat lembaganya akan memberikan bantuan uang tunai dan peralatan usaha pada beberapa PSK dan Mucikari. "PSK dan Mucikari binaan kami sempat diancam agar tidak mendatangi acara penyerahan, sehingga terpaksa kami lakukan secara sembunyi-sembunyi," ujar Zayin.

Atas aksi intimidasi itu, Zayin mengaku sudah melaporkan ke polisi, agar segera diselidiki dan diambil tindakan. Sebab, menurut dia, aksi itu sudah menjurus kriminal dan melanggar hukum.

Pemerintah Kota Surabaya merencanakan menutup lokalisasi yang konon terbesar di Asia Tenggara itu tujuh hari ke depan atau pada 18 Juni sebelum memasuki bulan puasa.

Setiap bulan puasa, lokalisasi Dolly ditutup total, dan diharapkan usai lebaran tidak ada lagi PSK dan mucikari yang beroperasi di sana. 

Sumber : http://regional.kompas.com/read/2014/06/11/1044404/H-7.Penutupan.Gang.Dolly.Aksi.Intimidasi.Merebak?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
Read more »

"Kutatap tulus cinta di matanya."

Reaksi jenderal yang dahulu kusangka agresif dan kejam, sungguh diluar dugaan. Tak sekalipun dia menyerang memojokkan lawannya. Tak pula dia menyindir atau menatap sinis lawan debatnya. Bahkan tak segan dia memuji, menghormati pendapat rivalnya.

Saat dipojokkan kembali dengan isu HAM yang menderanya dan membunuh karirnya 16 tahun lalu, dia bisa saja memojokkan kembali dengan menjawab: "Tanya kepada bu Megawati, mantan presiden yang pernah mengangkat saya sebagai Cawapres 2009"? Atau bertanya kembali, "Kenapa Pak JK sendiri tidak adili saya waktu Bapak menjabat Wakil Presiden?"

Tapi tidak. Memojokkan bukan sifatnya, tidak ada dalam jernih pikirannya. Mungkin karena begitulah sifat ksatria. Sifat seorang negarawan. Maka dia hanya berkata: "Tanyalah kepada atasan saya".

Atasan yang kita semua tahu persis berada justru di kubu Pak JK sendiri.

Usai debat, beliau bukan hanya hangat menyambut memeluk rivalnya. Juga saat ditanya wartawan, dengan ringan dia menjawab: "Saya harus mau diserang".

Dia juga tidak keberatan pesaingnya berbangga hati menunjukkan prestasi terpilih menjadi kepala daerah. Padahal kita semua tahu bahwa dialah orang yang pertama mengusungnya.

Sejujurnya, tak banyak saya melihat pribadi dengan karakter yang seikhlas dirinya, saat ini. Bathin saya seolah menangkap kilau kepribadiannya. Kepribadian yang akan mampu menyatukan elemen-elemen yang terserak di negeri ini.

Sejarah telah mencatat pengorbanannya untuk bangsanya. Mempertahankan keutuhan NKRI dengan darah dan nyawanya. Dan itu terjadi berulang kali. Di pertempuran Timor-Timur, dalam misi impossible pembebasan sandera sipil di Mapenduma Papua, penangkapan 2 agen berkulit putih tahun 1984, yang menyulut disintegrasi Papua, dan dalam berbagai operasi tempur berat lainnya. Dia tak tonjolkan semua bakti yang telah ditorehkan untuk ibu pertiwi yang dicintainya, dengan sepenuh jiwa raganya.

Karena itulah, keteguhan kata-katanya memberi makna yang dalam bagi yang memahami bersih nuraninya. "Saya sekian tahun adalah abdi negara, yang membela HAM. Mencegah kelompok radikal mengancam hidup orang-orang yang tidak bersalah."

Lalu dimana kita? Dimana nurani?

Kenapa kita rakyat sipil, yang katanya lebih beradab, dan yang telah dijaga hak hidup dan keleluasaan menjalankan berbagai jenis usaha, masih tetap terdorong memojokkannya. Tidak cukupkah kita menyaksikan betapa para jenderal-jenderal senior yang semestinya berjiwa korsa itu terus menuduhnya sebagai psikopat, gila, pelaku bom natal dan membebankan dosa satu institusi TNI tahun 1998 dipundaknya, seorang sendiri.

Tidakkah hati kita tergerak, untuk sekedar menghargai lelaki yang teguh ini? Mudah-mudahan nurani kita pada akhirnya bisa memaknai semua ini.

*by Prayudhi Azwar

Perth, 10 Juni 2014
Ditulis dikeheningan winter, 1:27 AM dinihari

Sumber : http://www.pkspiyungan.org/2014/06/kutatap-tulus-cinta-di-matanya.html
Read more »

Perang Uhud & Guilty Feeling

Perang Uhud adalah perang yang kaum muslimin mengalami kekalahan. Yang menarik adalah situasi sebelum terjadinya perperangan. Kita semua tahu kalau perang uhud merupakan ajang balas dendam kaum musyrikin.

Pada saat mendapat khabar berperang dari kaum musyrikin, sebenarnya Rasulullah menginginkan bertahan saja di Madinah. Namun bukanlah seorang leader bila keputusan yang diambil bukan keputusan dengan musyawarah. Pada saat disampaikan kepada sahabat lainnya ternyata mereka lebih memilih menyerang keluar dari kota Madinah. Memang semangat para sahabat luar biasa untuk berperang karena kebanyakan mereka adalah anak muda yang bukan alumni Badar. Mereka ingin merasakan pertempuran perang Badr. Dikarenakan banyak yang menginginkan keluar berperang akhirnya Rasulullah SAW menyutujui untuk keluar kota Madinah untuk bertempur.  Keputusan sudah diambil akhirnya terjadilah pertempuran.

Kita semua tahu bagaimana kesudahannya. Kaum Muslimin mengalami kekalahan.  Kalah menang dalam sebuah pertempuran adalah hal yang biasa. Yang luar biasa adalah bagaimana sikap Rasulullah menghadapi situasi yang terjadi. Rasulullah saat itu tidak mengungkit-ungkit bagaimana pendapatnya yang tidak disetujui oleh para sahabat. Bahasa pasarnya sering kita dengar bila pendapatnya tidak diikuti dengan ungkapan “apa gue bilang mestinya bertahan saja coba kalau tidak maju berperang nggak bakalan seperti  ini jadinya”. Ini kalimat yang keluar bagi orang-orang yang melempar kesalahan pada orang lain. Ini kalimat yang biasa keluar dari mulut-mulut orang munafik.

Rasulullah SAW sebagai orang yang dididik dengan kejujuran dan disiapkan Allah SWT sebagai seorang Leader bagi makhluk di bumi ini pantang bersikap seperti cuci tangan begitu. Dia tunjukkan ke-leader-annya dengan memberi support dan motivasi kepada sahabat agar tetap bertahan dan berjuang.

Kisah ini memberikan pelajaran dan hikmah kepada kita dalam hidup ini. Sikap yang tidak pantas dilakukan dengan mengatakan bahwa “makanya apa saya bilang, mestinya begini......begitu......., coba kalau mengikuti apa kata saya kan tidak akan seperti ini jadinya.................” sering kita dengar bagi sebagian orang yang kurang mengerti kejiwaan manusia. Bahkan tidak sedikit orang yang merasa punya ilmu kejiwaan tapi tidak mampu menghiasinya dalam perilaku sehari-harinya. Seolah-olah ilmu psikologi itu hanya buat orang lain tidak untuk dirinya.

Mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu akan membuat seseorang akan merasa “Guilty Feeling”. Selalu merasa bersalah. Puaskah kita pada saat orang yang kita tuding-tuding berbuat kesalahan tersebut akhirnya merasa bersalah sehingga dengan kepala tertunduk meminta maaf dan bahkan tidak kuat menatap wajah kita. Inilah yang harus dijadikan pelajaran.

Sebagai sarana muhasabah mungkin kita perlu menjawab peertanyaan ini didalam hati. “Sudah berapa kali-kah kita membuat bawahan kita di kantor merasa “Guilty Feeling” di saat hasil pekerjaannya kurang memuaskan. Seberapa sering kah kita melontarkan kalimat kepada anak kita “Makanya belajar yang rajin”. “Coba kamu ikuti apa kata Bapak/Ibu, tentu kamu tidak mendapatkan nilai yang jelek itu. “Coba kamu pilih jurusan yang Bapak/Ibu bilang tentu kamu ........., seolah – olah apa yang dikatakannya benar dan benar terjadi.

Puaskah kita membuat bawahan atau anak-anak kita atau teman-teman merasa bersalah dengan apa yang kita lakukan? Kalau ya jawabannya berarti Anda termasuk orang yang sakit jiwa.  

Wallahua'lam

Halley - Psikolog

Sumber : http://www.pkspiyungan.org/2014/06/perang-uhud-guilty-feeling.html
Read more »

10 June, 2014

PBNU: KH Ahmad Idris Marzuki Adalah Ulama Zuhud

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ilama (PBNU), KH Said Aqil Siroj, menyatakan belasungkawa atas wafatnya KH Ahmad Idris Marzuki. Ia menyampaikan seluruh keluarga besar nahdliyin merasa sangat kehilangan seorang ulama besar NU. Ia juga menyebut sosok almarhum sebagai ulama bersifat zuhud.

"Saya masih ingat saat Muktamar NU di Lirboyo pada 1999. Saat itu Kiai Idris berusaha keras menyukseskan pelaksanaan Muktamar. Padahal fasilitas pesantren Lirboyo waktu itu tidak seperti sekarang," katanya seperti dilansir dari laman resmi NU, Senin (9/6), di Jakarta.

Said mengaku kali terakhir bertemu almarhum pada 4 Juni 2014 saat bersama-sama menghadiri Haul Pesantren Ploso, Kediri. Saat itu, kata dia, Kiai Idris terlihat sehat dan masih tersenyum.

''Yang jelas Kiai Idris meninggal dalam kondisi tenang karena meninggalkan murid dalam kondisi yang sudah sangat baik. Jasa beliau sangat besar,'' ujarnya.

Almarhum Kiai Idris rencananya dimakamkan di pemakaman keluarga di area masjid lama pesantren Hidayatul Mubtadi'ien, Senin (9/6) malam ini

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/06/09/n6wm3n-pbnu-kh-ahmad-idris-marzuki-adalah-ulama-zuhud
Read more »

Gaya Penyampaian Prabowo dan Jokowi Saat Debat Capres

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) beradu debat dengan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa di Balai Sarbini, Semanggi, Jakarta Selatan, Senin (9/6) malam. Di luar penguasaan materi mereka terhadap persoalan yang diajukan ada hal menarik dari sisi gaya bicara dan cara penyampaian masing-masing capres-cawapres.

Prabowo sebagai capres nomer urut satu didampingi cawapres Hatta Rajasa tampil pertama menyampaikan paparan pembuka tanpa teks. Sementara Jokowi didampingi JK tampak catatan di secarik kertas kertas putih saat menyampaikan gagasan awal.

Debat sesi pertama mengangkat tema demokrasi, pemerintahan bersih, dan kepastian hukum. Prabowo menyatakan demokrasi harus tetap dipertahankan sampai kapanpun. "Demokrasi adalah alat dan tangga menuju cita-cita Indonesia yang kuat dan sejahtera," ujarnya.

Sementara  Jokowi menyinggung hubungan pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Menurutnya kebijakan daerah harus sejalan dengan pusat. "Pemerintah daerah harus sejalan dengan pemerintah pusat," kata mantan Walikota Surakarta ini.

Di akhir debat, baik Prabowo maupun Jokowi diberi kesempatan menyampaikan kata-kata penutup. Prabowo menegaskan akan bekerja keras menyelamatkan kekayaan nasional. "Sehingga demokrasi yang kita perjuangankan adalah demokrasi yang produktif dan yang memberikan kemakmuran bukan demokrasi yang wani piro bukan demokrasi yang destruktif," katanya.

Sementara Jokowi sembari membaca catatannya mengucapkan terimakasih atas dukungan keluarga. Pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio menilai kata penutupan Jokowi tidak seelegan saat pembukaan. Menurutnya Jokowi terlihat sering melirik ke bawah membaca catatan sebelum mengemukakan isi pikiran.

"Mungkin melihat catatan dan tidak memanfaatkan waktu yang tersedia. Sebaliknya Prabowo mengakhiri debat dengan pesan kunci yang jelas," kata Hendri.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/pemilu/menuju-ri-1/14/06/10/n6x1ny-gaya-penyampaian-prabowo-dan-jokowi-saat-debat-capres
Read more »

Nasehat Abdullah Azzam Bagi Mereka yang Ingin Menegakkan Islam

Ada untaian nasehat yang sangat berharga dari Syekh Abdullah Azzam bagi mereka bercita-cita menegakkan Islam di muka bumi ini. Nasehat ini didokumentasikan dalam sebuah buku berjudul Hidmul Khilafah wa Bina-uha, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul: Runtuhnya Khilafah & Upaya Menegakkannya.
Nasehat beliau ini sangat penting kita renungkan, terlebih lagi pada saat ini dimana banyak terjadi gontok-gontokan dan perseteruan antar sesama gerakan Islam. La haula wa la quwwata illa bi-Llah…
Berikut salah satu petikan nasehat beliau dalam buku tersebut (Edisi Indonesia Hal. 172 – 174, Pustaka Al-Alaq: Solo), semoga bermanfaat:
Jika kamu ingin menegakkan hukum Islam secara universal, sehingga manusia tunduk kepadanya, maka terlebih dahulu kamu harus melihat saudara-saudaramu yang ada di sekelilingmu dengan pandangan cinta, sayang dan simpati. Harus tertanam betul dalam hatimu bahwa orang yang ada disampingmu adalah haram darahnya, kehormatan dan hartanya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya”. (HR. Bukhari Muslim)

Dan hendaknya kamu tidak berprasangka padanya kecuali yang baik saja. Sebelum sampai pada tarbiyah ini, maka sungguh sangat berbahaya sekali mengangkat senjata terhadap musuh. Sebelum sampai pada marhalah yang mendasar ini, maka senjata yang telah diangkat itu akan berbahaya bagi pemegangnya.
Dan berbahaya bagi umat, apabila senjata itu berhasil mencapai singgasana kekuasaan. Karena darah akan mudah mengalir, kehormatan akan diinjak-injak, harta benda akan dirampas, dan kekuasaan akan berganti dari tangan kaisar (baca: penguasa diktator) satu ke tangan kaisar yang lain. Hanya luarnya dipoles dengan syi’ar-syi’ar dan nama-nama Islam sehingga nampak seperti penguasa Islam.
Apabila saudaramu seperjuangan tidak aman atau selamat dari (sikap dengki) mu, padahal dia telah bertaruh nyawa sebagaimana kamu telah bertaruh nyawa, dan kalian berdua bertemu dalam satu perjuangan, sama-sama menghadapi penindasan, penyiksaan, pengusiran dan lain sebagainya. Apabila kehormatan dirinya tidak aman dari penginjak-injakan, apabila dagingnya tidak aman dari dimakan, apabila harta bendanya tidak aman dari perampasan, dan apabila kehormatannya tidak aman dari penghinaan dan pelecehan. Maka apa jadinya?
Bagaimana besok kalian akan berbuat terhadap orang-orang Nasrani, orang-orang Yahudi dan orang-orang yang tunduk pada kekuasaan kalian? Bagaimana kalian akan bertindak terhadap orang-orang awam? Jika orang yang melangkah bersamamu (menegakkan agama Allah di muka bumi) sendiri tidak aman dari (sikap dengki) mu.
Engkau menyambut kedatangannya dan memeluknya kencang sehingga tulang rusuknya hampir lekat dengan tubuhmu. Tapi sedetik saja dia hilang dari pandanganmu, maka kamu memakan dagingnya dan merusak kehormatannya (dengan mengghibahnya).
Islam macam apa ini? Islam apa yang hendak kamu tegakkan dalam kehidupan manusia? Agama apa yang kamu serukan itu? Bagaimana mungkin, jika sekelompok kecil yang ada saja tidak dapat hidup bersatu. Padahal minimal hak muslim yang harus dipenuhi adalah tidak menggunjingnya ketika dia tidak ada.
Syari’at Islam dan manhaj (pedoman hidup) Islam mengajarkan kepada kita supaya memberi nasehat seseorang dihadapannya, supaya kita menjaga kehormatannya dibelakangnya (ketika dia tidak ada), bukan sebaliknya.
Seperti ucapan Hudzaifah kepada Mu’ad bin Jabal:
“Sungguh engkau telah mendapati diri kita semua bersaudara luar dan dalam. Kemudian kita hidup pada suatu zaman, dimana kita melihat orang-orang yang lahirnya nampak bersaudara tetapi batinnya memendam permusuhan”.
Demikian petikan nasehat Syekh Abdullah Azzam. Wahai para mujahid….renungkanlah!
Sumber : http://www.al-intima.com/nasehat/nasehat-abdullah-azzam-bagi-mereka-yang-ingin-menegakkan-islam
Read more »

09 June, 2014

Ketum GP Anshor Setuju Gang Dolly Ditutup

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Anshor, Nusron Wahid, setuju dengan penutupan kawasan lokalisasi Dolly. Namun, hendaknya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memikirkan kebijakan dan langkah usai penutupan kawasan Dolly secara komprehensif.
"Prinsipnya, GP Anshor setuju dengan penutupan Dolly. Namun, cara menutupnya jangan kasar dan menggunakan kekerasan," tutur Nusron saat dihubungi ROL.
Bagaimanapun, warga eks-Dolly juga manusia. Tidak ada seorang pun yang sejak kecil bercita-cita menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK). Adapun beberapa langkah dan kebijakan yang dapat dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, misalnya memberikan pelatihan kewirausahaan dan modal usaha bagi warga eks lokalisasi Dolly.
Mereka harus diberdayakan dan dikembalikan lagi ke masyarakat. Ini tanggung jawab negara, khususnya Pemkot Surabaya. Jadi, warga Eks Dolly jangan dihakimi, dicaci-maki dan dihina oleh warga lainnya. Pemkot Surabaya, tambahnya, bertanggung jawab dalam penanggulangan warga eks Dolly usai penutupan nanti.
"Jadi, pemerintah harus konsisten dengan kebijakan pasca penutupan Dolly," jelasnya.
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/06/07/n6rd0t-ketum-gp-anshor-setuju-gang-dolly-ditutup
Read more »

Presiden Idealnya Tokoh Kuat

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Pakar Hukum Tata Negara Irman Putrasidin mengatakan, presiden idealnya adalah tokoh yang bermental kuat, penuh percaya diri, dan memiliki kemampuan lebih dari rata-rata warga negara Indonesia.

"Karena presiden memiliki kewenangan sangat besar dan tanggung jawab negara ada di pundaknya. Presiden juga mengendalikan negara non-stop selama 24 jam sehari," kata Irman Putrasidin pada diskusi bertajuk "Mencegah Presiden Disandera Wakil Presiden" di Jakarta, Minggu.

Pembicara lainnya pada diskusi tersebut adalah Peniliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indpnesia (LIPI) R Siti Zuhro, pakar demokrasi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonsia Sony Harry B Rachmadi, dan juru bicara mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid, Adhie Massardi.

Menurut Irman, karena kewenangan presiden sangat besar dan tanggung jawabnya sangat berat, maka presiden adalah lembaga tunggal bukan lembaga majemuk.

"Siapapun termasuk wakil presiden, tidak boleh mengambil-alih kekuasaan presiden," katanya.

Ia menegaskan, presiden tidak boleh berbagi kewenangan dengan wakil presiden, misalnya urusan politik merupakan kewenangan presiden dan urusan ekonomi merupakan kewenangan wakil presiden.

Jika presiden sampai berbagi kewenangan dengan wakil presiden, menurut Irman, maka akan berpotensi munculnya matahari kembar dalam pemerintahan.

Irman menegaskan, agar pemerintahan kuat dan fokus maka calon presiden yang dipilih adalah figur yang benar-benar kuat, memiliki kemampuan memimpin, dan memahami tata kelola pemerintahan.

"Jika presidennya tidak kuat, maka potensi disandera oleh wakil presiden akan besar," katanya.

Irman juga mengingatkan, jika wakil presiden berupaya merebut kewenangan presiden, maka presiden bisa menginisiasi untuk mengusulkan pemberhentiannya kepada MPR RI.

Pada kesempatan tersebut, Irman juga menjelaskan, presiden dan wakil presiden adalah simbol negara. Meskipun pasangan calon presiden dan calon wakil presiden semula diusung oleh koalisi partai politik, tapi setelah terpilih sebagai presiden dan wakil presiden, harus bersikap netral dan berdiri di atas semua kepentingan politik.

Menurut dia, presiden juga tidak bisa diintervensi oleh pihak-pihak tertentu yang menjadi donatur pada masa kampanye capres-cawapres.

"Jika hal-hal tersebut dilanggar, maka pemerintahan tidak bisa berjalan efektif dan tersandera oleh kepentingan tertentu," katanya.

Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 9 Juli 2014 diikuti pasangan capres dan cawapres, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/pemilu/hot-politic/14/06/08/n6ut5l-presiden-idealnya-tokoh-kuat
Read more »

133 Anak Muslim Afrika Tengah Dimutilasi, Turki Berencana Kirimkan Pasukan

Badan PBB untuk anak-anak, UNICEF, menyatakan sangat terpukul dengan kenyataan terbunuhnya 133 anak di Afrika Tengah selama dua bulan ini. Selain dibunuh, tubuh anak-anak itu juga dikoyak-koyak dan mutilasi. Anak-anak korban pembunuhan itu berasal dari kalangan muslimin.
Manuel Fontaine, direktur UNICEF untuk tengah dan barat Afrika, Jumat (14/2/2014) kemarin, menyatakan bahwa gelombang pembantaian di Republik Afrika Tengah kian hari kian parah, baik di ibukota Bangui maupun di bagian tengah dan barat negara tersebut.
Sementara itu, Catherine Ashton, Perwakilan tinggi urusan luar negeri dan keamanan Uni Eropa, Sabtu (15/2/2014) hari ini, menyatakan akan segera membahas perkembangan politik dan kemanusiaan di Afrika Tengah dengan menteri luar negeri Turki, Ahmet Davutoğlu. Rencananya, Turki akan dilibatkan untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian di sana.
Sumber: www.dakwatuna.com / http://www.al-intima.com/akhbar-dauliyah/133-anak-muslim-afrika-tengah-dimutilasi-turki-berencana-kirimkan-pasukan
Read more »

Abu Lahab dan Perang Opini

Oleh: Iman Sulaiman
Para penentang dakwah Rasulullah di awal-awal masa kenabian jumlahnya sangat banyak. Namun hanya satu orang saja yang namanya disebut dalam Al-Qur’an, yaitu Abu Lahab. Bahkan namanya diabadikan menjadi nama salah satu surat, yaitu surat Al-Lahab.
Jika dilihat dari sisi tindak kejahatannya, sungguh banyak tokoh musyrik Quraisy yang lebih jahat daripada Abu Lahab. Misalnya Abu Jahal, dialah tokoh musyrikin yang telah membunuh dua sahabat Nabi, yakni Yasir dan Sumayyah. Bahkan Abu Jahal juga nyaris membunuh anak Yasir yang bernama Ammar, kalau saja ia tidak memenuhi keinginan gembong musyrikin itu untuk mengucapkan kata-kata kekufuran karena tidak tahan atas penyiksaan yang diterimanya.
Tokoh lain yang tak kalah jahatnya adalah Umayyah bin Khalaf yang menyiksa Bilal. Ada pula Walid bin Mughirah, dan lain-lain. Tetapi mengapa hanya Abu Lahab yang disebutkan namanya dalam Al-Qur’an? Padahal dalam catatan sejarah tidak pernah disebutkan ada seorang sahabat yang menjadi korban penyiksaannya.
Ternyata, bentuk kejahatan yang dilakukan oleh Abu Lahab adalah berupa perang opini, pengalihan isue dan pemutarbalikan fakta. Dan ini lebih dahsyat dari pembunuhan!
Suatu kali Rasulullah berdiri di atas bukit untuk mendakwahi kaumnya, diawali dengan pengkondisian untuk menggiring kaumnya agar meyakini kebenaran yang disampaikannya dengan pertanyaan,  “Bagaimana sekiranya kalau aku mengabarkan kepada kalian, bahwa musuh di balik bukit ini akan segera menyergap kalian, apakah kalian akan membenarkanku?”
Mereka menjawab, “Ya, kami membenarkannya karena tidak pernah satu kali pun kami mendapatkan kamu berdusta.”
Beliau bersabda lagi, “Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan bagi kalian. Sesungguhnya di hadapanku akan ada adzab yang pedih.”
Saat itu Abu Lahab pun berkata, “Apakah untuk tujuan ini kamu mengumpulkan kami? Sungguh kecelakaan bagimu.”
Akibat lontaran tersebut, maka buyarlah suasana yang telah dikondisikan Rasulullah tersebut, sehingga pada waktu itu tidak ada satu pun yang menyambut ajakannya.
Abu Lahab adalah paman Rasulullah yang seharusnya memberikan pembelaan kepada keponakannya sebagaimana yang dilakukan Abu Thalib, namun dia malah menghina, mencaci dan menjelek-jelekan Rasulullah. Mengungtit Rasulullah kemana pun pergi dan menyeru orang-orang untuk tidak mempercayai ucapan dan ajakan Rasulullah. Dia mendatangi perkumpulan-perkumpulan dan menyerukan bahwa yang dibawa Nabi Muhammad adalah kebohongan dan sihir yang bisa memecah belah ikatan keluarga dan peraudaraan.
Demikianlah kejahatan Abu Lahab yang menunjukkan bahwa kejahatan berupa penyebaran fitnah, pemutar balikan fakta, pembunuhan karakter, pemunculan isue dan opini yang menyesatkan itu lebih jahat daripada kejahatan fisik. Sehingga siksa yang ditimpakan Allah kepadanya di dunia pun begitu mengerikan dan menjijikkan. Abu Lahab terkena penyakit yang membuat sekujur tubuhnya berbau busuk. Maka tidak ada seorang pun yang tahan untuk mendekatinya. Saat ia mati, tidak ada seorangpun yang sanggup menguburkannya dengan cara yang wajar, tubuhnya diseret-seret dengan tongkat yang panjang hingga masuk ke liang kubur! Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan seperti ini.
Hari ini, banyak orang yang melakukan kejahatan perang opini yang jauh lebih dahsyat daripada yang dilakukan oleh Abu Lahab, karena sarana-sarana modern yang digunakannya (televisi, internet, radio dan lain-lain) memiliki daya rusak dan daya sebar yang tidak terbatas.
Tapi secanggih apa pun makar yang dibuat oleh mereka, tetap tidak akan bisa membungkam kebenaran. Sebab Pemilik kebenaran, Allah SWT, telah berfirman, “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaf: 8).
Sejarah akan berulang, peristiwa dan akibat kesudahannya bisa sama, hanya pelaku dan tempatnya saja yang berbeda. Wallahu A’alamu bi Shawab.
Sumber : http://www.al-intima.com/nasehat/abu-lahab-dan-perang-opini
Read more »

 

PKS TV Sudan