25 June, 2014

Didukung Kiai dan Ulama, Prabowo: Allahu Akbar, Allahu Akbar!

REPUBLIKA.CO.ID, PAMEKASAN -- Capres Koalisi Merah Putih Prabowo Subianto mendapat dukungan dari sejumlah kiai dan ulama di Jawa Timur, khususnya Madura. Prabowo merasa berbesar hati mendapat dukungan dari para alim ulama tersebut.

"Hari ini saya merasa semangat. Saya merasa mendapat dorongan besar dari saudara-saudara sekalian, dari para kiai, para ulama." kata Prabowo saat bersilaturahim dengan para kiai, ulama, dan masyarakat yang berkumpul di Pondok Pesantren Al Hamidy Banyuanyar Pamekasan, Madura, Selasa (24/6).

Berkat duungan tersebut, Prabowo semakin percaya diri untuk bisa memperjuangkan apa yang menjadi visi misinya bersama Hatta Rajasa. Ketua dewan pembina Partai Gerindra itu merasa tidak ragu dengan adanya dukungan dari kiai dan ulama.
"Kalau para kiai sudah berada di sebelah saya, masak saya gentar, masak saya takut,masak saya ragu-ragu, masak saya berkecil hati," kata mantan danjen Kopassus itu.

Semangat Prabowo ketika berorasi pun semakin meledak. Dengan nada lantang, ia menegaskan tekadnya membawa Indonesia menuju kemakmuran.

"Demi Indonesiaku akan ku pertahankan kehormatan Indonesia dengan segala kekuatan. Kita tidak akan ragu-ragu membela kepentingan rakyat kita. Untuk rakyat Indonesia, kalau perlu jiwa dan ragaku ku persembahkan kepada bangsa Indonesia. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar," ujarnya.

Prabowo mengau, ingin selalu dekat dengan para kiai dan ulama dalam mewujudkan cita-cita ke depan. Dengan adanya dukungan ini, ia pun berusaha meyakinkan masyarakat lainnya.

"Kalau para kiai, ulama besar Indonesia bersatu, masak kita kalah. Saudara-saudara sekalian, kita berada di jalan yang benar, kita membela rakyat, kita menentang korupsi, kita ingin membasmi kemiskinan," kata capres nomor urut 1 itu.

Ribuan orang yang hadir, seperti para santri dan warga masyarakat di sana mendengar orasi Prabowo. Saat itu Prabowo pun meminta bantuan untuk bisa mendapatkan mandat rakyat dalam Pemilu Presiden/Wakil Presiden, 9 Juli mendatang.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/pemilu/menuju-ri-1/14/06/25/n7p4lx-didukung-kiai-dan-ulama-prabowo-allahu-akbar-allahu-akbar
Read more »

Kronologi Munculnya Berita 'Hoax' Rakyat Palestina Doakan Jokowi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemberitaan adanya dukungan Duta Besar Palestina Fariz N. Mehdawi untuk calon presiden nomor urut 2, Joko Widodo, ternyata hasil peretasan. Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara langsung mengklarifikasi tidak pernah menyiarkan berita berjudul 'Rakyat Palestina Doakan Jokowi'.

Pemimpin redaksi LKBN Antara Akhmad Kusaeni menjelaskan, pemberitaan tersebut pada awalnya keluar pada Ahad (22/6). Kemudian, berita tersebut dikutip oleh portal berita nasional sehingga menjadi bahan pembicaraan di media sosial.
Berita yang ditulis Agus Sutiyawan tersebut pun langsung dicek oleh Kusaeni. "Saya cek,you bikin berita seperti itu enggak. Dia jawab enggak,"ujar Kusaeni saat dihubungi ROL, Senin (23/6).
Kusaeni kemudian meminta tim teknis Antara untuk mengecek berita tersebut. Berdasarkan penelusuran tim teknis, ujarnya, ada orang di luar Antara yang mencoba masuk ke sistem pemberitaan Antara dan menyelipkan berita itu. Kusaeni mengungkapkan, sang peretas pasti berasal dari luar Antara.

Dia menjelaskan, Antara memiliki sistem distribusi berita dengan sistem VSAT yang merupakan kepanjangan dari Very Small Aperture Terminal. Fungsi utama VSAT adalah untuk menerima dan mengirim data, termasuk berita, lewat satelit.
Menurutnya, sistem tersebut dibangun oleh LKBN Antara sehingga kemungkinan untuk diretas hampir tidak ada. Untuk portal daerah, ujarnya, Antara menggunakan sistemwebdesk yang pertahanannya memang tidak sekuat VSAT.
Dia menjelaskan, kemungkinan sistem webdesk memang di-capture oleh seseorang saat wartawan Antara masih mengakses sistem tersebut. Kemudian, oknum itu meretas dengan menggunakan username dan password wartawan Antara itu.
Hanya, sistem tersebut saat ini tidak digunakan lagi oleh wartawan Antara. "Kalau wartawan Antara, pasti menggunakan VSAT. Habis dari VSAT baru masuk ke portal-portal ,"ujarnya.
Oleh karena itu, Kusaeni menganggap berita tersebut bukan hasil kerja jurnalistik dari wartawan LKBN Antara. Kantor berita itu pun lantas menghapus berita itu. "Beritanya kitadelete. Kita anggap tidak ada karena memang bukan dibuat dan disiarkan wartawan Antara," jelasnya.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/pemilu/hot-politic/14/06/23/n7mm10-kronologi-munculnya-berita-hoax-rakyat-palestina-doakan-jokowi
Read more »

Nasehat K.H. Arifin Ilham Tentang Pilpres 2014

KH. Arifin Ilham, Pimpinan Majelis Az-Zikra, menyeru umat Islam Indonesia untuk meninggalkan perseturuan dan perpecahan terkait dengan momen Pilpres 2014.
“Subhanallah…  Jangan jadikan pemilu ajang perseteruan..! Prabowo dan Jokowi adalah saudara kita juga, kedua-duanya orang baik.. Satu merakyat, satu tegas berwibawa.. Sama-sama memiliki jiwa pemimpin. Mereka cocok menjadi pemimpin. Karena itu mari kita dukung kedua-duanya untuk menjadi pemimpin yang baik..” ujar beliau, “Kita dukung Jokowi untuk memimpin Jakarta, dan kita dukung Prabowo untuk memimpin Indonesia…” sambung beliau.
Menurutnya jika dukungan kita seperti ini, dengan seizin Allah Ta’ala, keduanya pasti menjadi pemimpin, dan kita tidak perlu berseteru apalagi berpecah belah. Pernyataan ini membawa pesan bahwa KH. Arifin Ilham mendukung Prabowo Subianto sebagai Presiden RI.
Bahkan melalui akun Facebooknya KH. Arifin Ilham juga menyatakan telah bermusyawarah dengan Dewan Syariah Majlis Az Zikra mengenai pilihan politik pada Pilpres 2014 yang akan datang, diantaranya adalah Prof. DR. Ali Musthofa Yaqub, Prof. DR Didin Hafifuddin, Prof. DR. Habib Ahmad Al Kaff, Prof. DR Dimyati Baduzzaman, KH Abdur Rasyid Abdullah Syafiii, ustadz Muhammad Tholib (MMI), DR KH Anwar Sanusi, ustadz Ja’far Umar Tholib, DR Muslih Abdul Karim, DR Amir Faisal Fath, Buya DR Saifuddin Amsir, KH Tengku Zulkarnain, Bang Debi Nasution, Abah Roudh Bahar, KH Khodamul Qudus, DR Sunandar Ibnu Nur, Bang Ferry Nur, ustadz Bobby Heriwibowo, ustadz Fadlan Papua, dan ustadz Abi Maki.
Hasil musyawarah tersebut menghasilkan keputusan bahwa Majlis Az Zikra mendukung Prabowo Subianto sebagai Presiden Indonesia, dan mendukung Joko Widodo untuk tetap menjadi gubernur DKI Jakarta sesuai janji beliau fokus memimpin DKI Jakarta.
Majelis Az Zikra juga menyatakan tetap akan menghormati siapapun yang terpilih nanti, dan menyerukan bahwa perbedaan pilihan jangan membuat saling benci dan bermusuhan.
Sumber foto: www.kiblat.net
http://www.al-intima.com/berita-ummat/nasehat-k-h-arifin-ilham-tentang-pilpres-2014
Read more »

Filsafat

Oleh: Akmal Sjafril
Beberapa mahasiswa di sebuah perguruan tinggi tengah ‘dimabuk filsafat’. Setelah mengikuti pelatihan selama beberapa hari, mereka pulang dengan membawa berbagai pertanyaan filosofis. Dalam pandangan mereka, segalanya harus dibedah dengan filsafat. Sebab jika tidak, maka hajat sang akal takkan terpuaskan. Akan tetapi, filsafat itu sendiri yang justru membuat orang tetap ‘haus’, dahaga tak pernah terpuaskan. Semua ini mereka dapatkan setelah beberapa hari saja menjalani indoktrinasi, sedangkan mereka sendiri barangkali tak pernah menyadari telah didoktrin habis-habisan.
Ada di antara mereka yang dengan lantangnya mengulang kata-kata serupa seperti yang dikatakan oleh Wardah Hafidz sebagaimana yang tercantum dalam transkrip wawancaranya di situs Jaringan Islam Liberal (JIL). Kala itu, Wardah dengan berani mengatakan bahwa ia tidak lagi menjalankan shalat sebagaimana yang dilakukan oleh umat Muslim lainnya, sebab cara itu ‘kurang pas’ untuk dirinya. Wardah berkeyakinan bahwa Allah SWT pastilah tidak otoriter, dan karenanya, ia memilih cara shalat yang ‘tidak konvensional’, tidak ritualistik dan tidak ‘mekanis’. Hampir senada dengan Wardah, mahasiswa-mahasiswa malang jaman sekarang pun mempertanyakan tujuan shalat. Kalau sampai yang ditanya menjawab, “Kita shalat karena diperintahkan oleh Allah,” maka mereka akan langsung menimpali, “Kalau begitu, Allah otoriter dong!?”
Stalin membantai sekian banyak rakyatnya sendiri hanya karena mengkritiknya, secara terbuka maupun tidak. Mao Zhedong tidak lebih baik dari Stalin, karena ia melibas siapa pun yang menolak kepemimpinan Partai Komunis di Republik Rakyat Cina (RRC). Hitler dan Mussolini berpikiran fasis dan merasa berhak menindas siapa pun yang tidak satu ras dengannya. Itulah para pemimpin yang disebut otoriter. Tapi ada pula mahasiswa yang ‘menghadiahi’ predikat “otoriter” kepada Allah SWT, sebab Dia mewajibkan shalat yang hanya lima waktu dalam sehari itu!
Kalau orang sudah asyik berfilsafat, macam-macam saja pemikirannya. Setelah membaca buku Karen Armstrong (itu pun tidak sampai khatam), langsung saja mereka bertanya, “Pak Dosen, tolong ceritakan kepada kami bagaimana sejarah Tuhan yang sesungguhnya!” Jika pertanyaan ini masih kurang nyeleneh, simaklah pertanyaan temannya yang lain: “Siapa yang duluan, manusia atau Tuhan?” Kalau sabar menunggu, mungkin akan muncul pula temannya yang lain menyoraki, “Tuhan itu diciptakan oleh akal manusia, dan Dia hanya ada di dalam benak kita semua, bro!”
Agaknya masih banyak orang yang tak mampu memberikan jawaban memuaskan atas pertanyaan ‘standar’ kaum ateis: “Jika Tuhan memang ada, panggil Dia ke sini!” Karena tak sanggup menjawab, maka dengan sangat terpaksa harus tunduk pada kaum ateis. Tapi untuk ‘mencampakkan’ Tuhan sepenuhnya pun tidak gampang. Maka, dikatakanlah bahwa Tuhan itu memang ada, tapi hanya di benak masing-masing. Itu pun hanya bagi yang percaya. Bagi yang tidak percaya, tentu saja tak ada Tuhan.
Para pembenci Tuhan sejak dulu memiliki tempat khusus dalam peradaban Barat, setelah Barat memutuskan untuk bersama-sama meninggalkan agama dan menjadi sekuler. Sigmund Freud, misalnya, menganggap agama tidak lebih dari sekedar gejala neurotik. Artinya, agama itu diciptakan oleh manusia karena kebutuhan akalnya sendiri. Freud, meski teorinya kini telah banyak ditinggalkan orang, tetap saja disanjung-sanjung sebagai tokoh psikologi dunia. Aneh, betapa orang Barat mempercayakan urusan jiwa mereka di tangan seseorang yang punya pemahaman sangat konyol tentang agama. Padahal, reputasi Freud pun sebenarnya tidak bagus-bagus amat. Di masa lalu, tokoh yang satu ini pun pernah mengajukan teori bahwa anak bayi memperoleh kenikmatan seksual dengan mengisap puting susu ibunya dan benda apa pun sebagai penggantinya, misalnya jempol mereka sendiri. Cendekiawan Muslim asal Sudan yang merupakan pelopor cabang ilmu Psikologi Islam, Prof. Malik Badri, menyebut pemikiran-pemikiran Freud sebagai ‘armchair thinking’; pemikiran yang muncul hanya dari observasi kasar yang kemudian diolah dengan otak dan spekulasi sendiri, tanpa pernah bersentuhan dengan realita. Teori Freud tentang ‘kenikmatan seksual yang dinikmati seorang bayi’, tentu saja, begitu jauh dari realita, sama jauhnya dengan pendapatnya tentang agama. Anehnya, pemikiran Freud sampai detik ini masih saja dilestarikan oleh segelintir orang.
Semua mata tertuju pada Karl Marx, karena ia dengan ganasnya memberangus agama dengan kata-kata “Religion is the opium for the people” (agama adalah candu bagi manusia). Tapi janganlah lupa bahwa di negeri ini pernah hidup seorang Harun Nasution yang begitu percaya diri menolak Rukun Iman keenam, yaitu Iman kepada Qadha’ dan Qadar, dengan alasan bahwa keimanan kepada Qadha’ dan Qadar ini membuat umat Muslim menjadi lemah karena cenderung pasrah pada keadaan. Berlainan sedikit dengan Marx yang menganggap bahwa agama telah melenakan manusia, Harun Nasution beranggapan bahwa Iman kepada Qadha’ dan Qadar telah melenakan manusia. Mungkin Harun lupa bahwa dalam khazanah pemikiran Islam pernah terjadi perdebatan antara kaum qadariyyah dan jabbariyyah; secara sederhana, kelompok yang pertama beranggapan bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan Allah, dan karenanya, mereka tak perlu berusaha, sedangkan kelompok yang kedua justru menafikan hal tersebut, sehingga mereka menisbatkan segala kejadian sebagai hasil usahanya sendiri. Dalam pandangan alim ulama, kedua kelompok ini sama-sama dianggap ekstrem. Keimanan yang benar terhadap Qadha’ dan Qadar tidak semestinya membuat manusia menjadi pasif dan malas berusaha. Sebaliknya, naluri untuk berusaha maksimal dan bekerja keras tak perlu membuat seorang Muslim sampai melupakan adanya ‘campur tangan’ Allah SWT dalam segala sesuatunya. Sebagaimana kita mengenal konsep ikhtiar, kita pun sangat memahami konseptawakkal.
Apa dinyana, Harun Nasution justru memiliki pengaruh yang luar biasa besar hingga saat ini di kampus-kampus UIN/IAIN di seluruh Indonesia. Bukunya menjadi bacaan wajib bagi seluruh mahasiswa di perguruan-perguruan tinggi tersebut, dan namanya masih disanjung-sanjung sebagai pembaharu (mujaddid) hingga kini.
Yang sudah ‘berkarat’ dalam filsafat akhirnya terjun bebas ke kedalaman filsafat Friedrich Nietzsche yang seratus persen ateis dan anti-teis. Nietzsche-lah yang dengan vulgarnya bersorak, “God is dead!” Pada akhirnya, Nietzsche-lah yang menemui kematian, sedangkan umat manusia hingga detik ini masih terus percaya pada keberadaan Tuhan, meski tentu saja ada pula yang masih mengikuti Nietzsche. Akan tetapi, yakinlah, mereka yang mengikuti Nietzsche pun kelak akan mati. Soal kematian ini, tak ada filsafat yang bisa membantahnya.

Yunani Kuno
Banyak orang belajar filsafat dari Barat, dan konon Barat mengambil akar filsafatnya dari pemikiran para filsuf Yunani kuno. Para mahasiswa Muslim di tanah air yang sedang asyik berfilsafat pun akrab dengan nama-nama Plato, Aristoteles, Socrates dan seterusnya. Dalam pikiran mereka, akal kaum filsuf Yunani kuno ini sedemikian hebatnya sehingga produk pemikiran mereka masih bisa digunakan hingga hari ini; kontras dengan pemikiran para ulama – yang lahir jauh lebih belakangan daripada jaman Yunani kuno – yang (menurut mereka) sudah banyak yang tidak up-to-date, bahkan kedaluwarsa.
Sayangnya, pengetahuan mereka tentang Yunani kuno begitu mentah. Nyaris tak ada satu pun di antara mereka yang serius belajar tentang peradaban Yunani kuno, bagaimana corak pemikirannya, dan apa sebab mereka memilih jalan berpikir yang demikian. Amat disayangkan, sebagian besar orang mengenal Yunani justru dari film-film Hollywood.
Untuk mengenal Yunani kuno, kita tidak mungkin mengabaikan begitu saja kisah-kisah mitologinya. Orang Yunani menggunakan mitologi bukan hanya untuk mengajarkan seperangkat nilai, melainkan juga untuk menjelaskan kepercayaan agamanya sendiri.
Hesiod, misalnya, menulis sebuah buku yang diberinya judul Theogony, yang artinya adalah “Kelahiran Dewa-dewi”. Buku ini bukan sekedar karya sastra biasa, sebab ia dipercaya menceritakan asal-usul para dewa dengan sesungguhnya. Dalam buku itu pun, Hesiod mengaku telah diberitahu oleh para Muse, yaitu anak-anak perempuan Zeus yang senantiasa hadir untuk memberi inspirasi kepada para penyair seperti Hesiod. Karena Theogony ini ditulis dengan ajaran langsung dari para Muse, maka ia dianggap valid.
Singkat cerita, sejak awal masa telah hadir suatu entitas kedewaan bernama Chasm, disusul kemudian oleh Gaia, Tartaros, dan Eros. Chasm kemudian melahirkan beberapa orang anak, sedangkan Gaia kemudian melahirkan Ouranos, yang kemudian menjadi pasangannya sendiri. Jadi, sebelum berpasangan dengan Ouranos, Gaia berkembang biak secara aseksual.
Belakangan, setelah melahirkan banyak anak, kebencian kepada Ouranos tumbuh dalam jiwa Gaia. Pasalnya, setiap kali Gaia melahirkan seorang anak, Ouranos langsung menutup rahimnya sehingga anak-anak berikutnya tidak jadi dilahirkan. Ouranos merasa senang melakukan hal yang demikian, maka Gaia pun mewariskan kebenciannya pada anak-anaknya sendiri. Gaia pun kemudian menggelar ‘tender’ kepada anak-anaknya untuk mencelakai ayah mereka sendiri. Salah seorang anaknya, Kronos, kemudian menyanggupi. Dengan suatu muslihat, Kronos berhasil memotong kelamin Ouranos dan menghentikan kezalimannya untuk selamanya.
Berikutnya, giliran Kronos yang berkeluarga bersama Rheia, dan melahirkan beberapa dewa Yunani yang sudah sangat dikenal, antara lain Hades dan Zeus. Akan tetapi setelah itu, Kronos mulai bertingkah seperti ayahnya dahulu. Karena ia khawatir kelak akan ada salah seorang anaknya mencelakai dirinya seperti ia dahulu mencelakai Ouranos, maka Kronos pun mulai memakan anak-anaknya sendiri yang baru saja lahir dari rahim Rheia. Maka, Rheia pun bersekongkol dengan Gaia – ibu mertuanya sendiri – dengan suatu cara sehingga ia bisa menipu Kronos. Rheia melahirkan Zeus di Krete, kemudian Gaia membesarkannya. Sementara itu, Rheia membungkus sebongkah batu dan menyerahkannya pada Kronos. Kronos, yang menyangka batu itu adalah anaknya, segera menelannya bulat-bulat.
Pada akhirnya, Zeus menggulingkan Kronos seperti Kronos dahulu menggulingkan Ouranos. Hanya saja, Zeus akhirnya berhasil mendapatkan kekuatan yang mahadahsyat yang tak tertandingi oleh siapa pun, sehingga ia pun menjadi dewa terkuat dalam kepercayaan Yunani kuno.

Tujuan
            Mengapa mitologi Yunani kuno – dalam hal ini adalah kisah dalam buku Theogony – perlu diulas agak panjang lebar di sini? Hal itu dilakukan tidak lain untuk memberikan gambaran mengenai tujuan bangsa Yunani kuno berfilsafat.
Kita dapat membayangkan, betapa kacau-balaunya kepercayaan masyarakat Yunani kuno pada masa itu. Masih ada ratusan nama dewa-dewi lainnya yang belum disebutkan di atas, dan masing-masing berpolitik; adakalanya mereka bekerja sama, adakalanya pula bersekongkol untuk saling menumbangkan. Nilai moral menjadi sangat tidak jelas, sebab dewa-dewinya pun tidak berpegang teguh pada moralitas yang luhur. Mengenai ‘moralitas para dewa’ ini, kita pun dapat bercermin pada kisah The Odyssey karya Homer, yang menggambarkan tipu muslihat para dewa, dan – anehnya – tipu muslihat itu pun bisa dikalahkan oleh kecerdikan akal manusia.
Dalam kondisi pemikiran yang carut-marut seperti itulah filsafat Barat dilahirkan. Mereka terpaksa mengerahkan segala kemampuan otaknya untuk memahami kebenaran, sebab tidak ada wahyu yang membimbing, atau lebih tepatnya, mereka telah kehilangan bimbingan wahyu tersebut. Itulah sebabnya salah seorang filsuf Yunani pernah berujar dengan nada lirih, “Tuhan telah menciptakan, namun kemudian ia pergi dan diam saja.” Itulah masyarakat Yunani kuno, yang telah kehilangan arah dan berjuang sendiri-sendiri untuk menemukan kebenaran.
Bagi mereka, tentu saja kebenaran harus dicari dengan logika, dan kadang-kadang apa yang dianggap benar oleh suatu generasi akan diralat oleh generasi berikutnya. Semestinya, umat Muslim yang dibimbing oleh wahyu (al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw) tidak mengalami kebingungan yang sama sebagaimana yang dialami oleh Barat.
Untuk menghadapi ‘tantangan’ filsafat dari Barat, tampillah tokoh-tokoh seperti Imam al-Ghazali. Tentu saja, al-Ghazali tidaklah ma’shum, sebab ia bukan seorang Nabi. Akan tetapi, di balik segala kekurangannya, kita akan menjumpai semangat yang membara dalam melawan serangan pemikiran dari Barat.
Filsafat al-Ghazali tidaklah sama dengan filsafat Barat. Sebab, tujuan mereka berfilsafat pun sangat berlawanan. Jika orang-orang Barat berfilsafat karena mereka tidak dibimbing wahyu, maka para filsuf Muslim justru berfilsafat untuk menjelaskan kebenaran wahyu. Maka, jika kita mengikuti orang Barat yang berfilsafat, tidaklah mengherankan jika cara berpikir kita semakin jauh dari agama.
Pada akhirnya, mudah saja membedakan mana yang serius berfilsafat untuk mencari kebenaran dengan yang tidak. Tengoklah perangainya! Jika ibadahnya semakin kuat, maka bisa dipastikan bahwa ia sangat serius memikirkan Tuhan. Tapi jika lisannya terus mengucap nama Tuhan, hobinya berdebat soal Tuhan dan sibuk mempertanyakan Tuhan, namun akhlaqdan ibadahnya tidak ada perubahan, maka bisa dipastikan bahwa ia berfilsafat sekedar untuk melakukan ‘kenakalan intelektual’ yang sangat tidak terhormat.
Sumber : http://www.al-intima.com/ghazwul-fikri/filsafat
Read more »

24 June, 2014

Israel Ancam Usir Utusan Khusus PBB

Avigdor Lieberman. (republika.co.id)
REPUBLIKA.CO.ID,YERUSALEM -- Menteri luar negeri Israel mengancam akan mengusir utusan khusus PBB karena menawarkan bantuan mentransfer dana-dana Qatar ke Jalur Gaza, kata stasiun televisi Saluran Dua.

Avigdor Lieberman mengatakan Robert Serry, utusan khusus badan dunia itu untuk proses perdamaian Timur Tengah, telah berusaha meyakinkan Pemerintah Palestina (PA) untuk mentransfer uang 20 juta dolar AS dari Qatar untuk menyelesaikan satu krisis pembayaran gaji para karyawan Hamas di Gaza, kata televisi itu, Sabtu (21/6).

Tetapi setelah Prsiden Palestina menolak tawaran itu, Lieberman yang berhaluan ultra-nasionalis itu menuduh Serry mengusulkan bantuan PBB untuk melakukan transfer itu.

Serry menolak tuduhan-tuduhan itu, dengan mengatakan dalam satu pernyataan bahwa pemerintah Palestina telah mendekati dia "secara tidak resmi" mengenai masalah itu.

"Dengan mempertimbangkan peran PBB dalam masalah pembayaran gaji-gaji para karyawan di Gaza yang memiliki potensi dampak-dampak ketidakstabilan dalam keamanan di Gaza, saya menegaskan bahwa kami hanya akan dapat membantu jika disetujui oleh para pemangku kepentingan," katanya.

Israel telah memegang informasi dari semua yang dibicarakan, tegasnya. Lieberman mengemukakan kepada AFP ia sedang melakukan suatu "pertemuan mendadak" Ahad mengenai pertikaian di mana televisi Israel melaporkan menteri luar negeri itu akan mengusulkan agar Serry dinyakan sebagai orang yang tidak disenangi kehadirannya di Israel.

"Kami menganggap perilaku Serry itu dengan sangat serius,dan tindakan-tindakan keras akan dilakukan," kata juru bicara kementerian luar negeri Israel Yigal Palmor kepada AFP.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/06/22/n7kci9-israel-ancam-usir-utusan-khusus-pbb
Read more »

Inilah Alasan PKS Dipercaya Urus Saksi Prabowo-Hatta

RMOL. Partai-partai Koalisi Merah Putih memercayakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk bertanggung jawab dalam pengamanan suara pasangan Prabowo Subianto-Hatta Radjasa di Pemilihan Presiden (Pilpres) 9 Juli mendatang. 

"Semua pihak sudah mengakui militansi kader PKS, dan seluruh level ketua TPS di tingkat daerah, kelurahan dan kecamatan juga sudah mengakuinya," kata Direktur Saksi dan Advokasi Tim Kampanye Nasional (Timkamnas) Jazuli Juwaeni di sela-sela acara Konsolidasi Nasional Koordinator Saksi di Jakarta, Selasa (24/6).

Jazuli mengatakan bahwa keputusan ini adalah permintaan dari calon presiden (capres) Prabowo Subianto.  

"Tapi yang lebih penting lagi terkait dengan saksi diamanahkan kepada PKS sebenarnya juga permintaan capres sendiri," ungkapnya.

Selain permintaan dari Prabowo, Jazuli menambahkan bahwa PKS selalu berargumen dengan data-data yang sangat kuat ketika terjadi perselisihan penghitungan. 

"Pak Mahfud MD menjadi saksi hidup, waktu beliau menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK)," imbuhnya.

Jazuli juga meyakini bahwa tugas yang diberikan kepada 684.599 saksi dari PKS ini akan dijalani dengan baik.

"Teman-teman dan kader-kader PKS semuanya adalah orang-orang yang amanah, jujur, memiliki dedikasi, militansi yang kuat, dan semangat yang tidak pernah padam," ujarnya.

PKS, menurut Jazuli, akan menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki untuk kemenangan pasangan Prabowo-Hatta. 
"Potensi kami pertama kader, kedua struktur dan ketiga lembaga publik dengan tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku," tuturnya.

Selanjutnya, tambah Jazuli, PKS akan berkoordinasi dengan partai lain di koalisi tatkala di tingkat TPS-TPS tertentu dimana tidak ada kader PKS yang bisa dijadikan saksi. 

"Tetapi sistem dan komando serta imam dari tahapan saksi ini dari PKS," jelasnya.

Acara Konsolidasi Nasional Koordinator Saksi pasangan Prabowo-Hatta digelar sejak Senin (23/6) siang hingga Selasa (24/6). Acara dibuka oleh Ketua Timkamnas Prabowo-Hatta, Mahfud MD serta dihadiri juga oleh pimpinan partai-partai koalisi seperti Presiden PKS Anis Matta, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Nurhayati Assegaf, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar Idrus Marham, Ketua Umum DPP Partai Gerindra Suhardi, Ketua Fraksi PKS DPR Hidayat Nur Wahid dan beberapa petinggi DPP PKS lainnya.[wid]

Sumber : http://politik.rmol.co/read/2014/06/24/160779/Inilah-Alasan-PKS-Dipercaya-Urus-Saksi-Prabowo-Hatta-
Read more »

Berpuasa dan Berhari Raya Bersama Mayoritas Manusia

Oleh: Farid Nu’man Hasan
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ, وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ, وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ
 “Puasa itu adalah di hari kalian (umat Islam) berpuasa, hari raya adalah pada saat kalian berhari raya, dan berkurban/ Idul Adha di hari kalian berkurban.” (HR. At Tirmidzi no. 697,  Ibnu Majah No. 1660, Ad Dailami No. 3819, Ad Daruquthni  2/164, Musnad Asy Syafi’i No. 315, Imam At tirmidzi mengatakan: hasan gharib. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Ash Shahihah No. 224)
Hadits ini  menjelaskan bahwa hendaknya kita berpuasa, Idul Fitri, dan Idul Adha ketika manusia  melakukannya, jangan menyendiri.
Imam At Tirmidzi menjelaskan: “Dan sebagian ahli ilmu menafsirkan hadits ini, mereka berkata : makna hadits ini adalah berpuasa dan berbuka adalah bersama jama’ah dan mayoritas orang (Ummat Islam).” (Ibid)
Imam Al Munawi berkata: Yaitu berpuasa dan berbuka bersama jama’ah dan mayoritas manusia. (At Taisir bisyarhi Al jami’ Ash Shaghir, 2/208)
Imam Al Munawi mengutip dari Imam Ad Dailami dalam kitab Musnad Firdaus sebagai berikut: Berkata di dalam Al Firdaus: sebagian ulama menafsirkan, katanya: “Puasa, Idul fitri, dan Idul adha bersama jamaah dan mayoritas manusia.” (Faidhul Qadir, 4/320)
Fatwa ulama Arab Saudi sendiri pada lembaga fatwa Al Lajnah Ad Daimah, tentang sekelompok manusia yang berpuasa, beridul fitri, dan idul adhanya berbeda dengan orang-orang kebanyakan, lantaran tidak mengikuti ru’yah di negerinya, justru Lajnah Daimah menganjurkan berhari raya bersama manusia di negerinya masing-masing.  Fatwa tersebut: “Wajib atas mereka berpuasa bersama manusia, beridul fitri bersama manusia, dan shalat idain (Idul fitri dan Idul Adha) bersama kaum muslimin di negeri mereka. …” (Al Khulashah fi Fiqhil Aqalliyat, 4/31)
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah:
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: jika terjadi perbedaan hari Arafah disebabkan oleh perbedaan negara yang berbeda mathla’ hilalnya apakah kita berpuasa mengikuti ru’yah negara tempat kita berada, ataukah mengikuti ru’yah Haramain (Makkah dan Madinah)?
Syaikh yang mulia menjawab: Jawaban pertanyaan ini adalah berdasarkan perbedaan pendapat ulama, apakah ru’yah hilal itu satu di seluruh dunia ataukah berbeda menurut perbedaan mathali’ (tempat terbitnya hilal)?
Yang benar adalah ru’yah itu berbeda sesuai perbedaan mathali’. Misalnya jika hilal telah di ru’yat di Makkah dan tanggal hari ini di Makkah adalah tanggal 9 Dzulhijjah, lalu di negeri lain hilal telah dilihat sehari sebelum ru’yat Makkah, sehingga hari ini di tempat itu adalah tanggal 10 Dzulhijjah, maka penduduk negeri tersebut tidak boleh berpuasa hari ini karena bagi mereka ini adalah Idul Adha.
Begitu juga jika ditakdirkan hilal terlihat di negeri tersebut sehari setelah ru’yah di Makkah, sehingga tanggal 9 di Makkah adalah tanggal 8 di negeri mereka, maka mereka tetap berpuasa esok hari (tanggal 9 di negeri mereka) bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Makkah. Inilah pendapat yang raajih (kuat). Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika kamu melihatnya (hilal), maka berpuasalah, dan jika kamu melihatnya maka berharirayalah). Mereka yang di negerinya hilal belum muncul tidak bisa melihatnya, sebagaimana manusia (kaum muslimin) sepakat bahwa mereka menggunakan terbit fajar dan terbenamnya matahari sendiri-sendiri sesuai lokasi negeri mereka, begitu pula dengan penetapan waktu bulanan ia seperti penetapan waktu harian. (Majmu’ Fatawa wa Rasail No. 405. Darul Wathan – Dar Ats Tsarayya)
Imam Ash Shan’ani mengatakan dengan tegas : “Pada hadits ini ada dalil bahwa yang diambil ‘ibrah dalam menetapkan hari raya adalah kebersamaan manusia. Dan bahwasanya seorang yang menyendiri dalam mengetahui masuknya hari raya dengan melihat hilal tetap wajib mengikuti kebanyakan manusia. Hukum ini harus dia ikuti, apakah dalam waktu shalat, ber’idul Fithri atau pun berkurban (Idul Adha).
At Tirmidzi telah meriwayatkan yang serupa dengan ini dari Abu Hurairah, dan dia berkata: hadits hasan. Dan semakna dengan ini adalah hadits Ibnu Abbas, ketika Kuraib berkata kepadanya, bahwa penduduk Syam dan Muawiyah berpuasa berdasarkan melihat hilal pada hari Jumat di Syam. Beliau dating ke Madinah pada akhir bulan dan mengabarkan kepada Ibnu Abbas hal itu, maka Ibnu Abbas berkata kepadanya: “tetapi kami melihatnya (hilal) pada  sabtu malam, maka kami tidak berpuasa sampai sempurna tiga puluh hari atau kami melihatnya.” Aku berkata: “Tidakkah cukup ru’yahnya Mu’awiyah dan Manusia?” Ibnu Abbas menjawab: “Tidak, inilah yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada kami.”  (Subulus Salam, 2/63)
Imam Abul Hasan As Sindi menyebutkan dalam  Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah: “Jelasnya, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan awal Ramadhan, Idul Fithri dan Idul Adha, pen) keputusannya bukanlah di tangan individu. Tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada  pemimpin (imam) dan mayoritas umat Islam. Dalam hal ini, setiap individu pun wajib untuk mengikuti penguasa dan mayoritas umat Islam. Maka jika ada seseorang yang melihat hilal namun penguasa menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan itu.” (Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah, 3/431)
Apa yang dikatakan oleh Imam Abul Hasan As Sindi, bahwa penentuan masuknya Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha merupakan domain dan wewenang pemerintah, tidak berarti mematikan potensi umat dan ormas. Mereka boleh saja memberikan masukan dan pertimbangan kepada pemerintah tetapi keputusan terakhir tetap di tangan pemerintah, dan hendaknya mereka legowo menerimanya, sebagai bukti bagusnya adab hidup berjamaah.
Syaikh Al Albani berkata – dan ini adalah komentar yang sangat bagus darinya: “Inilah yang sesuai dengan syariat (Islam) yang toleran, yang diantara misinya adalah mempersatukan umat manusia, menyatukan barisan mereka serta menjauhkan mereka dari segala pendapat pribadi yang memicu perpecahan. Syariat ini tidak mengakui pendapat pribadi –meski menurut yang bersangkutan benar– dalam ibadah yang bersifat kebersamaan seperti; shaum, Id, dan shalat berjamaah. Tidakkah engkau melihat bahwa sebagian shahabat Radhiallahu ‘Anhum shalat bermakmum di belakang shahabat lainnya, padahal sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, dan keluarnya darah dari tubuh termasuk pembatal wudhu, sementara yang lainnya tidak berpendapat demikian?!
Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna dalam safar dan diantara mereka pula ada yang mengqasharnya. Namun perbedaan itu tidaklah menghalangi mereka untuk melakukan shalat berjamaah di belakang seorang imam dan tetap berkeyakinan bahwa shalat tersebut sah. Hal itu karena adanya pengetahuan mereka bahwa bercerai-berai dalam urusan agama lebih buruk daripada sekedar berbeda pendapat. Bahkan sebagian mereka mendahulukan pendapat penguasa daripada pendapat pribadinya pada saat berkumpulnya manusia seperti di Mina. Hal itu semata-mata untuk menghindari kesudahan buruk (terjadinya perpecahan) bila dia tetap mempertahankan pendapatnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh  Imam Abu Dawud (1/307), bahwasanya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘Anhu shalat di Mina 4 rakaat. Maka shahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu mengingkarinya seraya berkata: “Aku dulu shalat bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakr, ‘Umar dan di awal pemerintahan ‘Utsman 2 rakaat, dan setelah itu ‘Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan diantara kalian, dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”
Namun ketika di Mina, shahabat Abdullah bin Mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau: “Engkau telah mengingkari ‘Utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Perselisihan itu jelek.” Sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Al Imam Ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar Radhiallahu ‘Anhum Ajma’in.
Hendaknya hadits dan atsar ini benar-benar dijadikan bahan renungan oleh orang-orang yang selalu berpecah-belah dalam urusan shalat mereka serta tidak mau bermakmum kepada sebagian imam masjid, khususnya shalat witir di bulan Ramadhan dengan dalih bahwa keadaan para imam itu beda dengan madzhab mereka! Demikian pula orang-orang yang bershaum dan berbuka sendiri, baik mendahului mayoritas kaum muslimin atau pun mengakhirkannya dengan dalih mengerti ilmu falaq, tanpa peduli harus berseberangan dengan kebanyakan kaum muslimin. Hendaknya mereka semua mau merenungkan ilmu yang telah kami sampaikan ini. Dan semoga ini bisa menjadi obat bagi kebodohan dan kesombongan yang ada pada diri mereka. Dengan harapan agar mereka selalu dalam satu barisan bersama saudara-saudara mereka kaum muslimin, karena tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama Al Jama’ah.” (As Silsilah Ash Shahihah, 1/389)
Wallahu A’lam ..
Sumber : http://www.al-intima.com/syariah/berpuasa-dan-berhari-raya-bersama-mayoritas-manusia
Read more »

Bergaul dengan Orang-orang Kafir?

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.S. Al-Mumtahanah: 8)
“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Mumtahanah: 9)
Tafsir Q.S. Al-Mumtahanah Ayat 8
Dalam ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa Dia tidak melarang orang-orang yang beriman berbuat baik, mengadakan hubungan persaudaraan, tolong-menolong dan bantu-membantu dengan orang-orang kafir selama mereka tidak mempunyai niat menghancurkan Islam dan kaum muslimin, tidak mengusir dari negeri-negeri mereka dan tidak pula berteman akrab dengan orang-orang yang hendak mengusir itu.
Ayat ini merupakan ayat yang memberikan ketentuan umum dan prinsip agama Islam dalam menjalin hubungan dengan orang-orang yang bukan Islam dalam satu negara. Kaum muslimin diwajibkan bersikap baik dan bergaul dengan orang-orang kafir, selama orang-orang kafir itu bersikap dan ingin bergaul baik terutama dengan kaum muslimin.
Seandainya dalam sejarah Islam terutama pada masa Rasulullah dan masa para sahabat, terdapat tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kaum muslimin kepada orang-orang kafir, maka tindakan itu semta-mata dilakukan untuk membela diri dari kelaliman dan siksaan-siksaan orang-orang kafir.
Di Mekah, Rasulullah dan para sahabat disiksa dan dianiaya oleh orang-orang kafir Quraisy, sampai mereka terpaksa hijrah ke Madinah. Sesampai mereka di Madinah, mereka pun dimusuhi oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan orang-orang kafir Quraisy, sekalipun telah dibuat perjanjian damai antara mereka dengan Rasulullah, sehingga terpaksa diambil tindakan kekerasan. Demikian pula di kala kaum muslimin berhadapan dengan kerajaan Persia dan Romawi, orang-orang kafir di sana telah memancing permusuhan sehingga terjadi peperangan.
Jadi ada satu prinsip yang perlu diingat dalam hubungan orang Islam dengan orang-orang kafir, yaitu: “Boleh mengadakan hubungan baik, selama pihak yang bukan Islam melakukan yang demikian pula”. Hal ini hanya dapat dibuktikan dalam sikap dan perbuatan kedua belah pihak.
Di Indonesia prinsip ini dapat dilakukan, selama tidak ada pihak agama lain bermaksud memurtadkan orang Islam atau menghancurkan Islam dan kaum muslimin.
Tafsir Q.S. Al-Mumtahanah Ayat 9
Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah SWT hanyalah melarang kaum muslimin bertolong-tolongan dengan orang-orang yang menghambat atau menghalangi manusia di jalan Allah, dan memurtadkan kaum muslimin sehingga ia berpindah kepada agama lain, yang memerangi, mengusir dan membantu pengusir kaum muslimin dari negeri mereka. Dengan orang yang semacam itu Allah melarang dengan sangat kaum muslimin berteman dengan mereka.
Pada akhir ayat ini Allah SWT mengancam kaum muslimin yang menjadikan musuh-musuh mereka sebagai teman bertolong-tolongan dengan mereka, jika mereka melanggar larangan Allah ini, maka mereka adalah orang-orang yang zalim.
Sumber: Al-Quránul Karim wa Tafsiruhu, Depag RI
http://www.al-intima.com/nasehat/bergaul-dengan-orang-orang-kafir
Read more »

22 June, 2014

Dukungan PKS Sudan Kepada Prabowo-Hatta

Menanggapi situasi Pemilihan Presiden 2014, Partai Keadilan Sejahtera mengambil sikap mendukung pasangan capres-cawapres nomor satu Prabowo Subianto - Hatta Rajasa. Sikap ini diambil dengan memperhitungkan dan menimbang kapasitas dan potensi kedua pasangan capres-cawapres dalam memimpin Indonesia di masa depan.

Dengan itu pula, para kader, simpatisan, dewan-dewan perwakilan, serta cabang-cabang PKS turut serta mendukung dan berusaha memenangkan pasangan Prabowo-Hatta di Pilpres 2014 yang akan digelar tanggal 9 Juli 2014 nanti.

Pada hari Sabtu, 21 Juni 2014, PIP PKS Sudan turut menunjukkan dukungannya kepada Prabowo-Hatta. Diawali dengan pengambilan gambar dukungan terhadap pasangan nomor urut satu di Khartoum, dan akan dilanjutkan dengan sosialisasi lain seperti direct selling, dan berbagai bentuk usaha pemenangan lain.

Dengan basmalah, kami mulai tapaki langkah-langkah menuju kemenangan umat ini. Bismillahirrahmanirrahim.

Diambil di komplek Masjid Raudhah, Khartoum pada Sabtu, 21 Juni 2014 pukul 18.30 WS

Read more »

11 June, 2014

PBB: Bosnia Butuh Rp 2,5 T untuk Dana Tanggap Darurat Banjir Terburuk Seabad Terakhir

MARKAS PBB, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan Bosnia butuh dana tanggap darurat minimal 210 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,5 triliun setelah banjir besar melanda negara pecahan Yugoslavia itu.

Pejabat lembaga PBB yang menangani pembangunan (UNDP), Cihan Sultanoglu, menyatakan dana itu adalah kebutuhan untuk prioritas perbaikan di kawasan yang paling parah terdampak banjir di Bosnia selama enam bulan ke depan.

Kebutuhan prioritas itu mencakup perbaikan tempat tinggal, makanan, air bersih, kesehatan, dan peralatan pertanian. Dana itu juga dipakai untuk pengadaan obat-obatan serta pembersihan puing dan ranjau.

Sultanoglu mengatakan daerah yang paling parah terdampak banjir mencakup area seluas 800 kilometer persegi yang diduga mengandung bahan tambang mudah meledak. Kondisi ini membuat operasi pembersihan menjadi mahal, sulit, dan lama.

Lebih dari 75.000 kilometer rumah diperkirakan rusak dengan 2.000-an di antaranya hancur total. PBB juga menyebutkan lebih dari 60.000 anak terdampak banjir besar tersebut.

"Mengingat musim dingin akan segera datang dalam empat atau lima bulan lagi, ada kebutuhan mendesak untuk memulai pekerjaan yang diperlukan untuk memastikan orang-orang memiliki rumah yang aman untuk ditinggali dan tempat tinggal yang memadai," kata Sultanoglu.

Sultanoglu juga menyebutkan kebutuhan perbaikan prioritas pendidikan sebelum tahun ajaran baru dimulai lagi pada 1 September 2014. "Perkiraan awal PBB, biaya untuk menutup biaya kebutuhan prioritas utama selama enam bulan pertama adalah 210 juta dollar AS, itu hanya di Bosnia Herzegovina," ujar dia.

Menurut Sultanoglu, biaya jangka menengah dan panjang diperkirakan akan jauh lebih besar lagi tetapi belum dapat dipastikan sekarang. Dalam pertemuan di markas besar PBB di New York, Amerika Serikat, disebutkan pula bahwa banjir besar di kawasan tersebut telah menghilangkan lebih dari 15.000 pekerjaan.

Kerugian ekonomi dalam banjir besar pertama dalam seabad terakhir untuk Bosnia saja diperkirakan mencapai lebih dari 1,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 15 triliun. UNDP telah menerima dana 1,2 juta dollar AS untuk dua proyek pembersihan ranjau dan puing di kawasan terdampak banjir tersebut. 

"Tantangan ke depan banyak, tetapi tantangan itu dapat diatasi jika kita bertindak secara kolektif," imbuh Sultanoglu. Banjir ini dipicu hujan deras yang melanda Serbia, Bosnia, dan Kroasia pada pertengahan Mei 2014. Banjir terburuk dalam seabad terakhir yang juga diikuti dengan tanah longsor ini menewaskan setidaknya 77 orang.

Pemerintah Bosnia telah memperingatkan bahaya dari ranjau darat sisa perang Yugoslavia pada 1990-an. Mereka khawatir ranjau darat yang belum meledak dalam perang tersebut telah muncul kembali ke permukaan karena lapisan tanah di atasnya tergerus banjir dan longsor.

Sumber : http://internasional.kompas.com/read/2014/06/10/0909238/PBB.Bosnia.Butuh.Rp.2.5.T.untuk.Dana.Tanggap.Darurat.Banjir.Terburuk.Seabad.Terakhir
Read more »

H-7 Penutupan "Gang Dolly", Aksi Intimidasi Merebak

SURABAYA, KOMPAS.com - Tujuh hari menjelang penutupan lokalisasi pelacuran Dolly di Surabaya diwarnai aksi intimidasi. Intimidasi terjadi terhadap pekerja dan kelompok yang pro penutupan Dolly.

Intimidasi terjadi terutama pada kelompok Pekerja Seks Komersial (PSK) dan mucikari binaan lembaga swasta dan Pemkot Surabaya yang disiapkan khusus untuk dientaskan pada 18 Juni mendatang.

"Bentuk intimidasinya berupa tekanan psikis hingga mengarah pada intimidasi fisik," kata Ketua Muhammadiyah Surabaya, Zayin Chudlori, Rabu (11/6/2014).

Ormas Islam yang dipimpinnya beberapa waktu terakhir memang memiliki kelompok PSK dan mucikari binaan di Dolly. Mereka disiapkan untuk keluar dari lokalisasi, dan dibina menjadi kelompok dengan ekonomi produktif untuk hidup yang lebih baik.

Aksi intimidasi itu sempat terjadi akhir pekan lalu, saat lembaganya akan memberikan bantuan uang tunai dan peralatan usaha pada beberapa PSK dan Mucikari. "PSK dan Mucikari binaan kami sempat diancam agar tidak mendatangi acara penyerahan, sehingga terpaksa kami lakukan secara sembunyi-sembunyi," ujar Zayin.

Atas aksi intimidasi itu, Zayin mengaku sudah melaporkan ke polisi, agar segera diselidiki dan diambil tindakan. Sebab, menurut dia, aksi itu sudah menjurus kriminal dan melanggar hukum.

Pemerintah Kota Surabaya merencanakan menutup lokalisasi yang konon terbesar di Asia Tenggara itu tujuh hari ke depan atau pada 18 Juni sebelum memasuki bulan puasa.

Setiap bulan puasa, lokalisasi Dolly ditutup total, dan diharapkan usai lebaran tidak ada lagi PSK dan mucikari yang beroperasi di sana. 

Sumber : http://regional.kompas.com/read/2014/06/11/1044404/H-7.Penutupan.Gang.Dolly.Aksi.Intimidasi.Merebak?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
Read more »

"Kutatap tulus cinta di matanya."

Reaksi jenderal yang dahulu kusangka agresif dan kejam, sungguh diluar dugaan. Tak sekalipun dia menyerang memojokkan lawannya. Tak pula dia menyindir atau menatap sinis lawan debatnya. Bahkan tak segan dia memuji, menghormati pendapat rivalnya.

Saat dipojokkan kembali dengan isu HAM yang menderanya dan membunuh karirnya 16 tahun lalu, dia bisa saja memojokkan kembali dengan menjawab: "Tanya kepada bu Megawati, mantan presiden yang pernah mengangkat saya sebagai Cawapres 2009"? Atau bertanya kembali, "Kenapa Pak JK sendiri tidak adili saya waktu Bapak menjabat Wakil Presiden?"

Tapi tidak. Memojokkan bukan sifatnya, tidak ada dalam jernih pikirannya. Mungkin karena begitulah sifat ksatria. Sifat seorang negarawan. Maka dia hanya berkata: "Tanyalah kepada atasan saya".

Atasan yang kita semua tahu persis berada justru di kubu Pak JK sendiri.

Usai debat, beliau bukan hanya hangat menyambut memeluk rivalnya. Juga saat ditanya wartawan, dengan ringan dia menjawab: "Saya harus mau diserang".

Dia juga tidak keberatan pesaingnya berbangga hati menunjukkan prestasi terpilih menjadi kepala daerah. Padahal kita semua tahu bahwa dialah orang yang pertama mengusungnya.

Sejujurnya, tak banyak saya melihat pribadi dengan karakter yang seikhlas dirinya, saat ini. Bathin saya seolah menangkap kilau kepribadiannya. Kepribadian yang akan mampu menyatukan elemen-elemen yang terserak di negeri ini.

Sejarah telah mencatat pengorbanannya untuk bangsanya. Mempertahankan keutuhan NKRI dengan darah dan nyawanya. Dan itu terjadi berulang kali. Di pertempuran Timor-Timur, dalam misi impossible pembebasan sandera sipil di Mapenduma Papua, penangkapan 2 agen berkulit putih tahun 1984, yang menyulut disintegrasi Papua, dan dalam berbagai operasi tempur berat lainnya. Dia tak tonjolkan semua bakti yang telah ditorehkan untuk ibu pertiwi yang dicintainya, dengan sepenuh jiwa raganya.

Karena itulah, keteguhan kata-katanya memberi makna yang dalam bagi yang memahami bersih nuraninya. "Saya sekian tahun adalah abdi negara, yang membela HAM. Mencegah kelompok radikal mengancam hidup orang-orang yang tidak bersalah."

Lalu dimana kita? Dimana nurani?

Kenapa kita rakyat sipil, yang katanya lebih beradab, dan yang telah dijaga hak hidup dan keleluasaan menjalankan berbagai jenis usaha, masih tetap terdorong memojokkannya. Tidak cukupkah kita menyaksikan betapa para jenderal-jenderal senior yang semestinya berjiwa korsa itu terus menuduhnya sebagai psikopat, gila, pelaku bom natal dan membebankan dosa satu institusi TNI tahun 1998 dipundaknya, seorang sendiri.

Tidakkah hati kita tergerak, untuk sekedar menghargai lelaki yang teguh ini? Mudah-mudahan nurani kita pada akhirnya bisa memaknai semua ini.

*by Prayudhi Azwar

Perth, 10 Juni 2014
Ditulis dikeheningan winter, 1:27 AM dinihari

Sumber : http://www.pkspiyungan.org/2014/06/kutatap-tulus-cinta-di-matanya.html
Read more »

Perang Uhud & Guilty Feeling

Perang Uhud adalah perang yang kaum muslimin mengalami kekalahan. Yang menarik adalah situasi sebelum terjadinya perperangan. Kita semua tahu kalau perang uhud merupakan ajang balas dendam kaum musyrikin.

Pada saat mendapat khabar berperang dari kaum musyrikin, sebenarnya Rasulullah menginginkan bertahan saja di Madinah. Namun bukanlah seorang leader bila keputusan yang diambil bukan keputusan dengan musyawarah. Pada saat disampaikan kepada sahabat lainnya ternyata mereka lebih memilih menyerang keluar dari kota Madinah. Memang semangat para sahabat luar biasa untuk berperang karena kebanyakan mereka adalah anak muda yang bukan alumni Badar. Mereka ingin merasakan pertempuran perang Badr. Dikarenakan banyak yang menginginkan keluar berperang akhirnya Rasulullah SAW menyutujui untuk keluar kota Madinah untuk bertempur.  Keputusan sudah diambil akhirnya terjadilah pertempuran.

Kita semua tahu bagaimana kesudahannya. Kaum Muslimin mengalami kekalahan.  Kalah menang dalam sebuah pertempuran adalah hal yang biasa. Yang luar biasa adalah bagaimana sikap Rasulullah menghadapi situasi yang terjadi. Rasulullah saat itu tidak mengungkit-ungkit bagaimana pendapatnya yang tidak disetujui oleh para sahabat. Bahasa pasarnya sering kita dengar bila pendapatnya tidak diikuti dengan ungkapan “apa gue bilang mestinya bertahan saja coba kalau tidak maju berperang nggak bakalan seperti  ini jadinya”. Ini kalimat yang keluar bagi orang-orang yang melempar kesalahan pada orang lain. Ini kalimat yang biasa keluar dari mulut-mulut orang munafik.

Rasulullah SAW sebagai orang yang dididik dengan kejujuran dan disiapkan Allah SWT sebagai seorang Leader bagi makhluk di bumi ini pantang bersikap seperti cuci tangan begitu. Dia tunjukkan ke-leader-annya dengan memberi support dan motivasi kepada sahabat agar tetap bertahan dan berjuang.

Kisah ini memberikan pelajaran dan hikmah kepada kita dalam hidup ini. Sikap yang tidak pantas dilakukan dengan mengatakan bahwa “makanya apa saya bilang, mestinya begini......begitu......., coba kalau mengikuti apa kata saya kan tidak akan seperti ini jadinya.................” sering kita dengar bagi sebagian orang yang kurang mengerti kejiwaan manusia. Bahkan tidak sedikit orang yang merasa punya ilmu kejiwaan tapi tidak mampu menghiasinya dalam perilaku sehari-harinya. Seolah-olah ilmu psikologi itu hanya buat orang lain tidak untuk dirinya.

Mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu akan membuat seseorang akan merasa “Guilty Feeling”. Selalu merasa bersalah. Puaskah kita pada saat orang yang kita tuding-tuding berbuat kesalahan tersebut akhirnya merasa bersalah sehingga dengan kepala tertunduk meminta maaf dan bahkan tidak kuat menatap wajah kita. Inilah yang harus dijadikan pelajaran.

Sebagai sarana muhasabah mungkin kita perlu menjawab peertanyaan ini didalam hati. “Sudah berapa kali-kah kita membuat bawahan kita di kantor merasa “Guilty Feeling” di saat hasil pekerjaannya kurang memuaskan. Seberapa sering kah kita melontarkan kalimat kepada anak kita “Makanya belajar yang rajin”. “Coba kamu ikuti apa kata Bapak/Ibu, tentu kamu tidak mendapatkan nilai yang jelek itu. “Coba kamu pilih jurusan yang Bapak/Ibu bilang tentu kamu ........., seolah – olah apa yang dikatakannya benar dan benar terjadi.

Puaskah kita membuat bawahan atau anak-anak kita atau teman-teman merasa bersalah dengan apa yang kita lakukan? Kalau ya jawabannya berarti Anda termasuk orang yang sakit jiwa.  

Wallahua'lam

Halley - Psikolog

Sumber : http://www.pkspiyungan.org/2014/06/perang-uhud-guilty-feeling.html
Read more »

 

PKS TV Sudan