13 June, 2012

Uni Eropa Takut Turki Jadi Negara Islam

Perlahan tapi pasti, Turki semakin dekat dengan suasana "Islami." Sebaliknya, doktrin sekulerisme mulai tersisihkan di negara yang kini diperintah Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) itu.

Selain tren jilbab yang tak terbendung, studi Al-Qur'an di sekolah umum mulai digalakkan di Turki.

Perubahan itu rupanya dipandang Uni Eropa sebagai hal yang mengkhawatirkan. Uni Eropa menuduh Ankara menggunakan kekuasaan untuk secara perlahan menyingkirkan sekularisme Turki. Diantaranya dengan memperkenalkan studi Al-Qur'an di sekolah umum.

Hal lain yang menjadi catatan Uni Eropa adalah upaya pemerintah Erdogan menurunkan batas usia anak-anak boleh masuk ke sekolah agama Islam serta rencana AKP untuk meluncurkan saluran televisi Islam dan proposal pembangunan tempat ibadah di ruang publik seperti teater dan opera.

Kepala Delegasi Uni Eropa, Jean Maurice Ripert mengatakan, perubahan yang dilakukan Turki tidak sesuai dengan semangat sekularisme negara yang dideklarasikan Mutafa Kemal Ataturk tersebut. “Sejumlah politisi membuat perbandingan yang tidak sesuai,” kata Ripert seperti dikutip Republika, Selasa (12/6) malam.

Awal Mei lalu hasil survei Yayasan Studi Ekonomi dan Sosial yang berbasis di Istanbul menunjukkan, 60 persen perempuan Turki telah mengenakan jilbab. Semarak jilbab itu juga diikuti dengan menjamurnya produk busana muslim di Turki.

Selain secara kultural, upaya "islamisasi" juga difasilitasi pemerintah dengan rencana mengaktifkan kembali Masjid Aya Sophia sebagai tempat ibadah umat Muslim dan mengajarkan Al-Qur'an di sekolah-sekolah umum, baru-baru ini. [AM/Rpb/bsb]

rujukan : 
http://www.bersamadakwah.com/2012/06/uni-eropa-takut-turki-jadi-negara-islam.html

Read more »

Inilah Isi Pidato KH Hasyim Muzadi yang Menghebohkan Itu

Baru-baru ini beredar pidato menghebohkan dari mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi melalui pesan berantai BlackBerry Messenger (BBM) dan media sosial.

Bagi umat Muslim yang komitmen dengan syariat Islam, pidato Hasyim Muzadi itu adalah pidato yang brilian dan patut mendapat acungan jempol. Namun, bagi kalangan liberal dan pihak-pihak yang “memusuhi” Islam, pidato itu dianggap “radikal.”


Seperti apa pidato yang menghebohkan itu? Berikut isi pidato Hasyim Muzadi yang juga Presiden WCRP
(World Conference on Religions for Peace) dan Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) tentang tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia oleh Sidang PBB di Jeneva :

"Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti karena laporan dari dalam negeri Indonesia. Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun yang setoleran Indonesia.

Kalau yang dipakai ukuran adalah masalah AHMADIYAH, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam.

Kalau yang jadi ukuran adalah GKI YASMIN Bogor, saya berkali-kali ke sana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional & dunia untuk kepentingan lain daripada masalahnya selesai.

Kalau ukurannya PENDIRIAN GEREJA, faktornya adalah lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tapi di Kupang (Batuplat) pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu melakukan mediasi.

Kalau ukurannya LADY GAGA & IRSHAD MANJI, bangsa mana yang ingin tata nilainya dirusak, kecuali mereka yang ingin menjual bangsanya sendiri untuk kebanggaan Intelektualisme Kosong ?

Kalau ukurannya HAM, lalu di Papua kenapa TNI / Polri / Imam Masjid berguguran tidak ada yang bicara HAM? Indonesia lebih baik toleransinya dari Swiss yang sampai sekarang tidak memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dari Perancis yang masih mempersoalkan Jilbab, lebih baik dari Denmark, Swedia dan Norwegia, yang tidak menghormati agama, karena di sana ada UU Perkawiman Sejenis. Agama mana yang memperkenankan perkawinan sejenis ?!

Akhirnya kembali kepada bangsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yang harus sadar dan tegas, membedakan mana HAM yang benar (humanisme) dan mana yang sekedar Weternisme". [JJ/Trb/yi] #1

copaz : 
http://www.bersamadakwah.com/2012/06/inilah-isi-pidato-kh-hasyim-muzadi-yang.html
Read more »

Shalahuddin vs Assasin

Shalahuddin Al Ayubi adalah pemimpin yang fenomenal. Ia adalah negarawan dan panglima perang yang bukan hanya dikagumi oleh umat Islam, tetapi juga dikagumi oleh lawan-lawannya, para ksatria Templar, termasuk Richard the Lion Heart. Sedangkan Assasin adalah kelompok rahasia dari sekte syiah hasaniyah yang gemar melakukan pembunuhan rahasia. Bagaimana jika keduanya bertemu? Itu pernah terjadi pada tanggal ini 836 tahun yang lalu.

22 Mei 1176. Assasin kembali melakukan percobaan pembunuhan atas Shalahuddin Al Ayubi. Assasin saat itu bahkan sudah menjangkau Shalahuddin. Mereka menembus langsung kamar tidur Shalahuddin saat ia terlelap. Assasin melukai Shalahuddin di kepalanya dengan belati. Itulah senjata andalah Assasin; belati indah untuk membunuh musuhnya dengan "seni" sekaligus nanti dipakai bunuh diri jika "tugas suci" itu telah tertunai. Assasin tidak suka lari setelah berhasil membunuh sasarannya. Mereka lebih suka bunuh diri.

Namun saat itu Assasin kembali gagal membunuh Shalahuddin Al Ayyubi. “Shalahuddin saat itu mengenakan penyangga leher dari bahan kulit dan helm logam di bawah surbannya,” tulis sejarawan Islam Tamim Ansary dalam bukunya, Destiny Disrupted: A History of the World through Islamic Eyes.

Menjadi orang baik bukan berarti semua orang akan baik kepada kita. Menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana bukan berarti semua orang akan mendukung kita. Kisah percobaan pembunuhan terhadap Shalahuddin Al Ayubi yang dilakukan oleh Assasin mengingatkan kita.

Namun, Shalahuddin mengajari kita, bahwa seperti apapun bahaya mengancam, ia tak boleh menghalangi proyek kebajikan kita. Sehebat apapun rintangan menghadang, ia tak boleh menghentikan langkah kebaikan kita. Sebab kesudahan yang menanti orang-orang yang istiqamah dalam kebaikan adalah ridha Allah Azza wa Jalla. Sebab akhir yang menanti konsistensi kebajikan adalah surga. Bahkan di dunia, penyegeraan kabar gembira hampir selalu membersamai mereka; segera atau setelah ia tiada. Dan itu pula yang didapatkan Shalahuddin; ia dikenang dan dicintai oleh umat Islam, bahkan dikagumi orang nasrani. Sedangkan Assasin, mereka hancur 96 tahun kemudian dan dibenci hingga kini, bahkan oleh orang Syiah, di mana mereka menisbatkan diri.

Terkadang kita salah memaknai janji perlindungan Allah kepada orang beriman. Seperti firman-Nya pada surat Al Baqarah ayat 257: “Allah Pelindung orang-orang yang beriman” atau surat Muhammad ayat 11: “sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman.” Kita lalu berharap bahwa kita senantiasa dilindungi dari segala rintangan dan bahaya, kita menginginkan akan selalu kebal dari pembunuhan dan terluka. Jika ada yang menyabetkan pedang kepada kita, seketika ayunan pedang itu terhenti tepat satu cm dari kulit kita. Atau jika ada peluru yang datang ia akan terhenti tepat sebelum mengenai tubuh kita. Tidak. Perlindungan Allah tidak selalu bermakna seperti itu.

Bahkan, tiga dari empat khulafa'ur rasyidin meninggal dibunuh. Umar bin Khatab dibunuh oleh Abu Lu'lu'ah, seorang budak Majusi keturunan Yahudi. Utsman bin Affan dibunuh pemberontak yang terhasut oleh Abdullah bin Saba', tokoh Yahudi. Dan Ali bin Abu Thalib dibunuh Abdurrahman bin Muljam, seorang khawarij. Mereka semua syahid, dan perlindungan Allah kepada mereka bukanlah dalam bentuk mencegah mereka syahid. Bahkan syahid itulah perlindungan Allah. Itulah sebaik-baik akhir kehidupan orang beriman yang sepanjang hidupnya menorehkan kebaikan dan kebajikan.

“Syahid fi sabilillah al asma amanina,” Hasan Al Banna menjadikan kaidah itu sebagai salah satu kredo perjuangannya. Dan ia pun mendapati hal yang sama; syahid, oleh peluru-peluru durjana yang menembus dadanya. [Muchlisin] #1

lihat : 
http://www.bersamadakwah.com/2012/05/shalahuddin-vs-assasin.html
Read more »

05 June, 2012

Muslim Pembelajar | Tentang Waktu dan Cinta Ilmu


Ketika seorang manusia sudah menyematkan dan mengikrarkan “Islam” dalam hatinya, maka sungguh seharusnya tidak ada lagi keraguan baginya untuk terus memperjuangkan Dien Allah tersebut dalam setiap lini kehidupannya. Seorang Muslim sejati, pada awalnya ia akan mencoba untuk memahami akar sejarahnya, akar sejarah peradaban Islam ketika Nabi Muhammad datang membawa cahaya yang mengubah “barbarnya” bangsa Arab saat itu menjadi bangsa yang diakui sebagai peradaban paling maju di dunia.

Di kala Barat sedang berada dalam masa paling gelap dalam sejarahnya.Peradaban Islam hadir menjadi Cahaya yang menerangi hampir 2/3 dunia. Semua bangsa tunduk di bawah kekhalifahan Islam selama hampir 8 Abad. “Panji Islam menguasai dunia”, kalimat tersebut nampaknya sangat pantas menggambarkan kondisi Islam saat itu. Baghdad dan Andalusia merupakan 2 kota yang boleh dibilang menjadi “centre of witness” dari berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi Islam. Munculnya tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Al Khawarizmi, dan intelektual muslim lainnya membuat begitu banyak bangsa yang berduyun-duyun datang ke kota tersebut untuk belajar tentang ilmu pengetahuan. Pada waktu itu Ilmu Pengetahuan memang menjadi sumber utama Peradaban Islam diakui oleh dunia, kehadiran ilmu pengetahuan Islam bagaikan oase di sebuah padang pasir yang sangat luas. 

Mari kita refleksikan sejarah Islam lebih dalam lagi, maka kita akan menemukan karya-karya monumental yang sampai saat ini masih kita rasakan kebermanfaatannya. Kepeloporan dari ilmuwan muslim zaman dahulu telah memberikan “multiple effect” yang luar biasa membekas dari generasi ke generasi, bahkan kalau kita tinjau lebih dalam lagi kita akan menemukan bahwasanya peradaban Barat yang “konon” dikatakan sebagai peradaban paling maju saat ini ternyata berawal dari adopsi mereka terhadap ilmu-ilmu hasil karya peradaban Islam.

Tidak dipungkiri lagi bahwa karya-karya ulama dan ilmuwan Islam telah menjadi “starting point” bagi tumbuhnya ilmu pengetahuan, meskipun kita lebih sering mendengar karya-karya ilmuwan Barat yang menghiasi tradisi ilmiah kita. Hal tersebut dikarenakan ketika peradaban barat berkuasa, mereka menutupi sejarah bahwa sebenarnya ilmu mereka banyak terinspirasi dari karya ilmuwan muslim. Terbukti bahwasanya karya-karya yang diterjemahkan dari Bahasa Arab ke Latin jauh lebih banyak daripada karya dari Bahasa Yunani ke Latin. Fakta tersebut tidak pernah diakui oleh Barat, mereka melakukan klaim yang sangat jelas bahwa karya-karya pemikir dan ulama Islam menjadi teori milik mereka yang kita ketahui bahwa hal tersebut sangat melanggar etika ilmiah. Hal tersebut yang kemudian menyebabkan nama ilmuwan muslim kurang dikenal dalam sejarah ilmu pengetahuan modern.

Tinta Emas Peradaban

Dewasa ini Ilmu Pengetahuan sudah mengalami perkembangan yang sangat eksponensial, hal tersebut justru menjadi suatu tantangan berat bagi umat Islam agar bisa menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam seperti yang telah dipelopori oleh intelektual Muslim dahulu. Sebagai seorang Muslim, kita harus cerdas dalam belajar dan memahami akar sejarah ilmu pengetahuan yang berawal dari karya2 ilmuwan muslim. Sampai saat ini, Prof. Mulyadhi Kartanegara bersama dengan lembaganya yaitu CIPSI (Center for Islamic philosophical studies and information) telah berhasil menginventarisasi lebih dari 756 tokoh ilmuwan Muslim terkemuka yang memiliki konstribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang sains dan pemikiran filsafat. Hal tersebut menunjukkan betapa banyaknya pemikir-pemikir Islam yang menjadi cikal bakal ilmu pengetahuan.

Kita Bisa melihat kemajuan ilmu kedokteran saat ini dimana sebuah benda kecil yang bernama pil mampu menyembuhkan orang sakit dalam waktu yang cukup singkat, serta seluruh ilmu-ilmu modern tentang bakteri, virus, dan tubuh manusia. Ilmu tersebut awalnya dikembangkan oleh seorang Ilmuwan Muslim bernama Ibnu Sina. Dokter Persia yang hidup seribu tahun yang lalu ini memiliki ketajaman pemikiran luar biasa sehingga mampu menjelajah masuk ke dalam kompleksitas sistem tubuh manusia. Beliaulah yang menjadi pelopor sehingga saat ini kita bisa merasakan manfaat dari ilmu kedokteran tersebut.

Dalam Bidang Astronomi, dikenal juga ilmuwan muslim bernama Ibnu Qatir yang pemikirannya sudah menjelajah jauh ke luar angkasa.Beliau mempelajari gerak melingkar planet merkurius mengelilingi matahari. Karya-karyanya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan menjadi inspirasi Ilmuwan astronomi di barat.Konon diceritakan juga bahwa karya dan persamaan matematikanya sangat mempengaruhi teori Nicolaus Copernicus. 

Ilmu Matematika modern saat ini pun juga dicikal-bakali oleh pemikiran tokoh Ilmuwan Muslim yang bernama Al Khawarizmi. Beliau menulis sebuah karya besar yang berjudul Kitab Al-Jabr wa Muqabilah (Buku tentang Integrasi dan Persamaan) atau yang berisi pengembangannya pada rumus-rumus persamaan linear dan kuadrat juga kalkulasi integral.Karya-karya beliau banyak dipelajari oleh ilmuwan barat seperti Fibonacci.

Begitu pula dalam ilmu filsafat dan ilmu-ilmu sejarah, ilmuwan muslim pun tidak kalah hebat dengan ilmuwan barat. Ibnu Rusyd dan Al-Ghazali merupakan seorang filsuf besar yang pemikirannya sangat mempengaruhi pemikiran Barat. Ibnu Khaldun juga disebut-sebut sebagai sejarawan terbesar di dunia. Ia menulis sejarah dengan analisis yang sangat cerdas, kitabnya yang paling terkenal adalah Muqaddimah yang nantinya diterjemahkan secara luas di Eropa sebagai Prologomena.

Selain orang-orang tersebut, masih sangat banyak ilmuwan muslim yang pada zaman peradaban islam membuahkan karya-karya unggul, menorehkan tinta emas dalam kanvas peradaban dan memiliki cita-cita bahwa ilmunya akan dikembangkan jauh lebih maju oleh generasi-generasi muslim selanjutnya. Pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak saya adalah, “Bagaimanakah cara Umat Islam saat ini agar mampu meneruskan tradisi keilmuan yang sudah mereka wariskan?”. Jawabannya barangkali sederhana, Kita harus memiliki “Tradisi Pembelajaran Muslim” yang wajib kita implementasikan dalam setiap perjalanan kita.

Tradisi Pembelajaran Muslim, Tentang Waktu dan Cinta Ilmu

“Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja, dan dengan malam dan apa yang diselubunginya” (Q.S. Al-Insyiqaq : 16-17)

“Demi Masa” (Q.S. Al-Asr : 1); 

“Demi Fajar” (Q.S. Al-Fajr : 1); 

“Demi Malam” (Q.S.Al-Lail : 1)

Tidakkah kita telah melihat bagaimana Allah SWT dengan sangat jelas menyampaikan dalam Al-Qur’an tentang sumpah-Nya akan waktu, seperti ayat-ayat diatas. Sudah sepatutnya kemudian kita berpikir, dan tidak perlu mempertanyakan lagi akan pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Waktu merupakan anugerah Allah SWT yang tidak ternilai harganya, bukan hanya dari segi duniawi saja tetapi waktu juga memiliki nilai ukhrawi. Di akhirat nanti, kita akan mempertanggungjawabkan tentang apa saja yang sudah dilakukan selama waktu hidup kita di dunia. Rasulullah SAW pun pernah bersabda, “Tidaklah mata kaki seorang hamba di hari kiamat tergelincir sehingga akan ditanya umur yang dihabiskannya, ilmunya yang telah diamalkannya, hartanya dimana ia perolehnya dan kemana diinfakkannya, dan masa mudanya kemana ia pergunakannya”. 

“Al-Waqt ka al-saif. Fa in lam taqtha’haa qath’aka” — Waktu laksana pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya, ia akan menebasmu (Pepatah Arab). Mari kita cermati bagaimana konsep waktu ini dipahami oleh Ilmuwan Muslim dulu sehingga lukisan karya mereka bisa mewarnai peradaban dunia. Imam Bukhari yang saat ini kita kenal dengan kitabnya Shahih Bukhari Muslim, telah menghabiskan seluruh waktunya untuk menghafal sekitar 100 ribu hadits. Ibnu Mas’ud, Sahabat Nabi yang dalam sejarah telah berhasil membunuh Abu Jahal dan dijuluki oleh nabi sebagai Pemuda Terdidik pernah mengatakan “Aku belum pernah menyesali sesuatu seperti halnya aku menyesali tenggelamnya matahari, dimana usiaku berkurang namun amal perbuatanku juga tak kunjung bertambah”. The Great Philosopher, Ibnu Rusyd atau yang lebih dikenal dengan sebutan Averroes juga selama hidupnya menghabiskan waktu untuk terus belajar dan berkarya. Konon hanya dua malam yang tidak ia gunakan untuk belajar yaitu saat malam pernikahannya dan malam meninggal ayahnya. Demikianlah contoh sekelumit tokoh-tokoh peradaban islam dalam memahami waktu, sebagaimana diajarkan di dalam ajaran Islam.

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Alloh akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Alloh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Mujadalah 11)
Selain waktu, satu hal yang perlu kita cermati lagi sebagai seorang muslim adalah kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Apa rahasia peradaban-peradaban dunia mengalami kemajuan yang luar biasa? Kita melihat kembali sejarah peradaban Islam semenjak kekuasaan dinasti abbasiyah, saat itu umat Islam berhasil melakukan proses penyerapan ilmu pengetahuan yang luar biasa. Ditemukannya Kertas di Cina saat itu mengakibatkan ilmu pengetahuan terhebat dari seluruh dunia dapat diduplikasi dan bisa didapatkan dengan mudah. The Golden Age Of Science, merupakan masa dimana Ilmu Islam mencapai puncak kegemilangannya. Masa itu berada saat Kekhalifahan Harun Al Rasyid dan Al-Ma’mun. Kedua Khalifah tersebut sangatlah mencintai ilmu pengetahuan, Harus Al Rasyid adalah seorang intelektual dan pembelajar sejati yang selalu haus akan ilmu. Dialah yang memepelopori untuk memajukan pendidikan, mendirikan perpustakaan, pusat-pusat kajian ilmu dan memberikan penghargaan yang luar biasa kepada ilmuwan di zamannya. Pada zamannya kaum intelektual merupakan kamu yang paling dihormati di seluruh negeri.

Puncak peradaban Islam dalam bidang sains kemudian dapat dilihat pada zaman khalifah Al-Ma’mun. Beliau berusaha membuka akses yang seluas-luasnya agar ilmu pengetahuan dari seluruh dunia bisa dipelajari oleh ummat Islam. Beliau mengirimkan ilmuwan-ilmuwan terbaiknya untuk belajar ke pusat-pusat pengetahuan dunia, beliau juga membeli ribuan buku terbaik yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab. Buku-buku tersebut selanjutnya dipelajari oleh ilmuwan-ilmuwan muslim, sehingga tradisi keilmuan Islam benar sangatlah terasa pada zaman khalifah Al-Ma’mun. Khalifah Al-Ma’mun berhasil menunjukkan bahwa buku dan ilmu pengetahuan sama berharganya dengan kemenangan dalam sebuah peperangan. Tak heran, tokoh-tokoh peradaban Islam lahir ketika zaman beliau seperti Al-Khawarizmi, Al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Haitham, Ibnu Battuta, Ibnu Rusyd, dll.

Rasululah SAW bersabda, “Kelebihan seorang yang berilmu terhadap ahli ibadah adalah seperti bulan purnama terhadap seluruh bintang-bintang di langit, satu bab dari ilmu yang dipelajari seseorang adalah lebih baik baginya dari dunia dan isinya, sehingga menuntut ilmu menjadi wajib atas tiap-tiap muslim; menghadiri majelis orang-orang berilmu, lebih utama daripada mendirikan shalat seribu raka’at, mengunjungi seribu orang sakit dan berta’ziah seribu jenazah; barangsiapa wafat seseorang yang menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam, antara dia dengan Nabi-nabi di dalam surga jaraknya hanya satu tingkat.”

Sudah seyogyanya saat ini kita, sebagai umat muslim perlu merefleksikan kembali kerya-karya peradaban pendahulu-pendahulu kita. Kemudian merancang kembali akan peran kita dalam melukis dan mewujudkan kembali peradaban Islam. Keteladanan ilmuwan muslim terdahulu akan berharganya waktu dan kecintaannya terhadap ilmu nampaknya cukup untuk membuat kita sadar dan berpikir, apa yang kemudian akan kita lakukan?

Menghidupkan kembali Tradisi Keilmuan Islam memang bukan pekerjaan mudah, dibutuhkan aktor-aktor yang siap mengorbankan waktunya untuk mencintai ilmu pengetahuan. Sejarah teleh mencatat, bahwasanya tumbuhnya peradaban berawal dari tumbuhnya tradisi keilmuan karena substansi sebuah peradaban adalah ilmu pengetahuan. Konsep waktu dan cinta ilmu merupakan dua variabel penting yang sudah seyogyanya umat muslim sekarang pahami dan terapkan dalam kehidupan, agar tidak menjadi orang-orang yang merugi. Secara sederhana, untuk meneruskan cita-cita peradaban islam mari kita dedikasikan seluruh harga waktu yang sudah diberikan Allah SWT untuk senantiasa meningkatkan kembali rasa cinta kita kepada ilmu pengetahuan. Apakah kita siap?

Saya akan menjawab, “Saya Siap”.

Karena Allah telah menjanjikan “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (QS. Al Fath : 1). 
Oleh :  Ardian Fajar Prastyawan
Mahasiswa Institute Teknologi Bandung dan Koordinator PMLDK (Pelatihan Manajemen Lembaga Dakwah Kampus) FSLDK Indonesia



Sumber: http://www.islamedia.web.id/2012/06/muslim-pembelajar-tentang-waktu-dan.html #4
Read more »

03 June, 2012

PKS Usulkan TKI Luar Negeri Bebas Biaya Asuransi & Paspor


Jakarta (29/5) - Fraksi PKS menyampaikan perlunya Negara memberikan asuransi gratis bagi calon pekerja yang kurang mampu. Hal ini karena pekerja yang kurang mampu tersebut mayoritas memiliki penghasilan yang rendah, sehingga akan memberatkan apabila harus membayar premi asuransi.

Demikian disampaikan Anggota Komisi IX DPR Indra SH saat membacakan pandangan Fraksi PKS terkait pengesahan RUU Tentang Perlindungan Pekerja Indonesia di Luar Negeri, di Ruang Baleg DPR RI, Selasa (29/5).Untuk itu, Fraksi PKS mengusulkan perubahan redaksi Pasal 53 dalam RUU tersebut, dengan menghilangkan kewajiban bagi Calon Pekerja Indonesia di Luar Negeri dan/atau Pekerja Indonesia di Luar Negeri untuk menanggung biaya Asuransi/Jaminan Sosial. “Dibalik tingginya biaya untuk menjadi TKI calon pekerja, mereka menjual harta benda, tanah, ternak dan bahkan berhutang,” ujar Indra.Selain itu, Fraksi PKS juga mengusulkan khusus untuk pekerja sektor domestik,  Negara harus menanggung biaya pembuatan paspor dengan memperhatikan peraturan tentang keimigrasian yang berlaku. Dalam surat Keputusan Ditjen Imigrasi pada Departemen Hukum dan HAM nomor IMI2.UM.01.01.1-18 tertanggal 11 Januari 2010 diatur bahwa pekerja Indonesia di luar negeri adalah gratis dapat memperoleh paspor 24 halaman secara gratis. Apabila pekerja menginginkan paspor 48 halaman maka biaya yang timbul ditanggung pekerja sendiri.Terakhir, Fraksi PKS memandang bahwa proses kepulangan pekerja luar negeri ke daerah asal perlu mendapat pengawasan ketat oleh pemerintah. Hal tersebut khususnya bagi pekerja Indonesia di luar negeri yang bekerja di sektor domestik dan/atau yang berpengetahuan minim, sering “dimanfaatkan” oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. “Namun demikian, pekerja tersebut tetap diberi kebebasan untuk memilih sendiri cara pulang menuju daerah asalnya,” kata Indra.Pandangan Fraksi PKS ini, menurut Indra, disampaikan dalam rangka memenuhi hak warga negara Indonesia tersebut, maka negara wajib menjamin hak, kesempatan dan memberikan perlindungan bagi setiap warga Negaranya baik di dalam maupun di luar negeri tanpa diskriminasi. “Sebagai pahlawan devisa Negara, maka calon pekerja atau pekerja Indonesia diluar negeri perlu mendapat perlindungan yang optimal dan mendasar, sehingga pembaharuan RUU dengan konsep yang mutakhir sangatlah penting,”
Read more »

19 May, 2012

“PKS Mendingan Bubar Aja Deh…”

Oleh: Fuad Aris
Bismillahirrahmanirrahim…
Kita berbicara tentang sebuah partai politik di Indonesia kali ini, bukan Partai Demokrat sang pemenang pemilu 2009 atau pun Golkar pemenang pemilu 2004 atau PDIP pemenang pemilu tahun 1999, partai ini belum pernah menjadi pemenang pemilu, prestasi terbaiknya “hanya” menduduki peringkat ke-4 di Pemilu 2009 dan belum berhasil mencapai target suara yang telah dicanangkan, yaitu 20 juta suara di Pemilu 2009.
Partai itu adalah Partai Keadilan Sejahtera atau PKS. Partai  yang didirikan di Jakarta pada hari Sabtu, tanggal 9 Jumadil ‘Ula 1423 bertepatan dengan 20 April 2002. PKS adalah kelanjutan dari Partai Keadilan yang didirikan pada hari Senin, tanggal 26 Rabi’ul Awwal 1419 bertepatan dengan 20 Juli 1998.
Partai yang sudah melahirkan banyak tokoh dalam blantika politik Indonesia, seperti Nurmahmudi Ismail (mantan menteri Kehutanan dan sekarang Walikota Depok), Hidayat Nur Wahid (mantan ketua MPR) Tifatul Sembiring (Menkominfo), Gatot Pudjo Nugroho (Plt. Gubernur Sumatera Utara), Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat), Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat), Sa’aduddin (Bupati Bekasi) dan tokoh lainnya. Partai ini pun banyak menghasilkan  politisi muda yang cerdas, seperti Anis Matta, Fahri Hamzah, Andi Rahmat, Mahfudz Sidiq, Nasir Djamil, Mustafa Kamal dan politisi muda lainnya. Barisan wanitanya pun tak kalah hebat terlahir dari Partai ini, seperti Yoyoh Yusroh, Nursanita Naustion, Ledya Hanifa serta lainnya. Bukan di bidang politik saja, Partai ini pun banyak menelurkan para sastrawan hebat seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, M. Yulius dan lain-lain.
Tapi bukan kehebatannya yang akan kita bicarakan saat ini. Ini masalah nasib PKS saat ini yang terasa “memprihatinkan”. Lihat saja beberapa bulan lalu mereka dikejutkan dengan manuver dari mantan pendiri mereka, sang Presiden PKS dikatakan sebagai mantan mujahidin Afghanistan yang membuat para pemilih PKS yang tidak terlalu “ekstrem” dalam masalah jihad memikirkan ulang untuk memilih PKS karena takutnya PKS punya “hidden agenda” untuk Indonesia. Lalu sang Presiden dilaporkan ke BK DPR-RI karena menerima uang dari Jusuf Kalla yang sudah dibantah sendiri oleh JK. Sang pelapor tidak membawa bukti apa-apa, selain “katanya”. Sekjennya pun dilaporkan ke KPK terkait dugaan penggelapan dana yang sudah di-clearkan juga karena jumlahnya berbeda dengan yang diaudit KPUD DKI kala itu. Belum lagi masalah 3 petingginya yang poligami, lalu laporan ke polisi tentang presidennya dan polisi menolak laporan tersebut. Semua ini jelas terlihat bahwa memang PKS saat ini sedang memprihatinkan.
Lihat saja, mana ada liputan tentang pekerjaan para kadernya di tingkat grassroot, adakah liputan tentang Forsitma (Forum Silaturahmi Majelis Ta’lim) atau liputan bahwa kader-kader partainya selalu mengadakan bakti sosial di tiap 2 bulan?? Tidak ada, yang ada paling hanya cibiran bahwa mendekati majelis ta’lim karena ingin suara, “mengadakan baksos kok pake cerita-cerita, itu riya namanya”. Apalagi yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan ikan tapi pancing, baksos cuma buat masyarakat jadi manja tidak mau bekerja, semua ini PKS-lah penyebabnya!!!
Ketika RATUSAN RIBU kadernya turun ke jalan untuk menyuarakan keadilan untuk sesama di belahan bumi lainnya, media pun melakukan korupsi berita, paling hanya ditulis ratusan atau ribuan, dan komentar yang akan muncul hanya “PKS selalu membuat sulit warga Jakarta dengan demonya, buat macet aja!!!” semua ini PKS-lah penyebabnya!!!
Tak pernah ada juga liputan tentang kader-kadernya yang berjasa, mereka lupa perda larangan merokok lahir dari para anggota DPRD dari PKS, kenaikan gaji PNS dan Tunjangan Kinerja Daerah untuk PNS DKI pun lahir dari tangan-tangan mereka, yang ada hanya “larangan merokok melanggar hak manusia dan menaikkan tunjangan PNS hanya membuat sembako tambah melambung” semua ini PKS-lah penyebabnya!!
Bukan hanya dari kalangan external, dari kalangan umat Islam pun PKS seperti “pesakitan” mereka dianggap berdakwah dengan cara yang haram, demokrasi itu haram!!! Karena mayoritas ulama mengatakan itu (yang ketika ditanyakan siapa saja ulamanya, tidak pernah dijawab) padahal ini hanya masalah khilafiyah saja. PKS juga dianggap telah keluar dari ciri khas dakwah mereka, semuanya sekarang berjas dan naik mobil mewah, “biasanya tuh PKS jalan kaki, masak sekarang naik mobil, gak militan!!” Sudah keluar dari khithahnya, karena para petinggi nya sudah hubbuddunya (cinta dunia) maka para umat Islam hari ini pun semakin banyak yang mengejar dunia, semakin banyak membuat usaha biar dapat penghasilan yang banyak… semua ini PKS-lah penyebabnya!!!
Mereka pun sekarang serba salah, seperti cerita tentang poligami misalnya, ketika ada yang mengatakan bahwa poligami beberapa petinggi PKS bermasalah, maka semua mencaci…”astaghfirullah ustadz kok begitu, pada zina semua” tapi ketika ditegaskan tidak ada yang bermasalah, karena PKS tidak melarang poligami, semua mencaci juga ,“ustadz gatel, doyannya kawin doang”
Ketika berita keburukan mereka ada di suatu media, lihatlah link-link lainnya tentang berita itu, banyak sekali, jika kita buka satu persatu, inti pemberitaannya sama, cuma judulnya saja. Media sedang menggiring pembaca mau baca berita yang mana saja, media sedang menghidangkan para pembaca judul yang berbeda, terserah mau baca yang mana intinya PKS buruk citranya.
Kalian pasti pernah dengan berita bahwa anggota dewan PKS tertanggap main judi kan?? Pasti, karena berita itu dimuat di semua media. Tapi tahukah kalian bahwa anggota dewannya sudah dipecat?? Tahukah Anda bahwa anggota dewan tersebut berasal dari eksternal PKS? Yang dirangkul untuk memastikan bawah PKS memang partai terbuka?? Hhmm sepertinya itu bukan berita yang bagus buat media, kecuali beberapa saja. Karena “bad news tentang PKS” adalah “good news” untuk media.
Sekarang posisi mereka serba salah,  ketika era tanzhimi dulu, kader PKS dikatakan eksklusif, tidak membaur dan ini tidak akan memuluskan dakwahnya, karena Islam itu rahmatan lil alamin, tidak tersekat, semua harus bisa menerima manfaat dari Islam, karena Islam bukan hanya untuk kader saja tapi untuk seluruh lapisan masyarakat. Tapi ketika PKS memproklamasikan bahwa mereka adalah partai terbuka, siapa saja boleh jadi anggotanya (bukan hanya kader) mereka pun dicaci, menghalalkan segala cara untuk dapat suara, berteman dengan kafir bahkan ada yang mengatakan semuanya akan masuk neraka (kayak neraka punya dia aja).
PKS, oh PKS, kasihan sekali nasib kalian, apapun yang kalian lakukan akan ada penentangnya, mending mundur sajalah, bubarkan partainya, kan enak tidak perlu mendengar cibiran banyak orang? Jangan nekad deh PKS. Ada bom buku di Utan Kayu aja, kalian kena getahnya. Jangan-jangan ketika misalkan kader kalian menjadi presiden suatu saat nanti, akan ada kudeta berdarah dari masyarakat, karena kalian tidak pernah disuka.
Tapi, ya kalau kalian tetap nekad, tetap kuat dengan cibiran semua pihak, tetap kokoh strukturnya, tetap membaca Qur’an walau buat acara di hotel, tetap membina ribuan halaqah yang di dalamnya membicarakan kebaikan, tetap banyak mendirikan sekolah islam terpadu dan pesantren-pesantren tahfizh, tetap kuat bekerja di grassroots, membina majelis ta’lim, membina pengajian kantoran, pengajian karang taruna, membina banyak majelis ta’lim membina rohis-rohis sekolah dan LDK kampus, ya sudah, saya tidak bisa banyak berkata, kau teruskan saja apa yang selama ini sudah kau lakukan, wahai PKS.
Dan izinkan aku ada di dalam barisan kalian, seraya meneriakkan takbir dan berkata “bekerja untuk Indonesia adalah ibadah” 

kopas from :
Read more »

Subhanallah, Pedagang Somay Keliling ini Ketua DPRa PKS Paling Heroik

Suatu waktu beliau pernah berbicara, kalau ada undangan rapat DPC-DPRa meminta agar tidak melalui sms tapi ditelepon saja. Kami memaklumi hal tersebut mungkin karena faktor usia sehingga beliau tidak begitu jelas untuk membaca tulisan yang kecil-kecil di handponenya.

Walau sudah berusia setengah abad lebih, Pak Jaenudin atau yang akrab dipanggil Bang Jay dengan penuh semangat dan dedikasi menerima amanah dari kami untuk menjabat sebagai ketua DPRa (Dewan Pengurus Ranting) Partai Keadilan Sejahtera di desa Kertamukti, kecamatan Cibitung, kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Yang lebih kami kagumi lagi, beliau menjalani amanah Ketua DPRa PKS ini disela-sela kesibukannya mencari nafkah untuk menghidupi dua orang anak dan seorang istri dengan berjualan somay keliling yang dilakoni dari tahun 1990.

Amanah ini beliau jalani dengan penuh semangat, ketika taklimat untuk rapat koordinasi itu kami sebar melalui sms berantai seketika itu pula beliau hadir dengan menghentikan aktivasnya berjualan somay walaupun kadang masih tersisa cukup banyak. Sehingga kami selalu menjadikan somay “Bang Jay” sebagai menu konsumsi rapat. Bahkan bukan hanya dalam rapat saja dalam setiap kesempatan acara kami selalu menjadikan somay Bang jay sebagai tambahan konsumsi.

Karena enaknya rasa somay Bang Jay kami juga meminta para kader merekomendasikan dan mempromosikan somaynya kepada kader atau pun orang lain dalam berbagai acara. Ini juga salah satu cara kami dalam membangkitkan ekonomi kader.

Bang Jay merupakan sosok yang ramah dan supel dalam bergaul serta kepolosannya sehingga kami betah bercerita dengan beliau. Ada cerita menarik dari teman-teman kepanduan, ketika DPC PKS Cibitung mengirimkan utusannya ke acara Mukhayyam Pandu Keadilan Dasar 1 (MPKD) beberapa waktu lalu. Beliau sebagai ketua ranting menjawab dengan yakin dan mantab akan mengirimkan lima utusan termasuk beliau sebagai peserta. Semula kami tidak yakin beliau akan ikut mengingat mata pencahariannya setiap hari berjualan somay.

Akhirnya keraguan kami tidak terbukti dengan berangkatnya Bang Jay beserta personilnya. Sehingga dari dua puluh enam orang peserta Mukhayyam dari Cibitung mereka tidak ingin dipecah menjadi beberapa regu. Mereka ingin berkumpul bersama dalam satu regu dengan Bang Jay sebagai Komandan Regu. Jadilah team kepanduan DPC Cibitung sebagai team yang “Terheboh” di acara tersebut.

Pada pemilihan Bupati kabupaten Bekasi tahun 2012 kemarin Bang Jay juga sangat terlibat aktif. Beliau yang memiliki jam dagang dimulai dari sore hingga larut malam masih tetap bisa memenuhi amanah yang dibebankan kepadanya untuk mengisi semua TPS dengan saksi.

Bang Jay adalah salah satu batu bata kecil yang menyusun kokoh bangunan peradaban yang dicita-citakan Partai Keadilan Sejahtera. Semangat, dedikasi dan pengorbanannya di jalan dakwah ini menjadi cermin bagi semua kader PKS dimana saja berada untuk tegak kokoh mempersembahkan yang terbaik bagi terwujudnya cita-cita luhur partai dakwah ini: tertegaknya keadilan dan terciptanya kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Wallahu a’lam Bishawwab.



*sumber: http://pkscibitung.wordpress.com
Read more »

14 May, 2012

Seruan Peringatan Nakbah ke-64: Akhiri Penjajahan di Palestina!

Bismillahirrahmaanirrahiim
Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar". Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. (QS Al Israa’ [17] : 4 – 6).

Hari Bencana, adalah makna yang bisa dipahami terkait dengan Hari Nakbah yang setiap tahun diperingati oleh rakyat Palestina dan Dunia Islam pada umumnya. Bukan bencana alam, tetapi yang terjadi pada tanggal 14 Mei 1948 itu merupakan bencana kemanusiaan. Berdirinya negara Israel di atas tanah rakyat Palestina menjadi bencana besar yang mengancam stabilitas dan perdamaian dunia hingga hari ini.

Awal bencana yang selanjutnya diikuti oleh rentetan bencana yang mengerikan itu, terjadi ketika Israel memproklamirkan berdirinya negara Zionis di atas tanah resmi milik bangsa Palestina pada tahun 1948. Dengan angkuhnya, Israel kemudian mengusir sekitar 700.000 penduduk Palestina. Mereka dipaksa keluar dari rumahnya untuk mengungsi ke negara lain di sekitarnya. Ratusan ribu warga Palestina yang tanahnya dirampas itu, mengungsi di Libanon.

Tetapi kebiadaban Zionis Israel tidak berhenti hanya dengan mengusir penduduk asli Palestina dari negerinya sendiri. Pada tahun 1982, pemerintahan Zionis dengan dipimpin oleh Ariel Sharon menginvasi Libanon dan menghancurkan negeri kecil yang menampung ratusan ribu pengungsi asal Palestina itu. Selanjutnya, Yahudi Zionis bersama pasukan Kristen Libanon membantai sekitar lima ribu pengungsi yang tidak berdaya di kamp Shabra dan Satila. Peristiwa itu dan peristiwa lainnya telah menginspirasi banyak orang untuk memperingati setiap tahunnya sebagai Hari Nakbah, Hari Bencana.

Peringatan Hari Nakbah tahun lalu diwarnai oleh insiden tewasnya 15 pemuda Palestina dan ratusan lainnya luka-luka, akibat bentrok dengan tentara Israel di dekat perbatasan Libanon dan Dataran Tinggi Golan.
Sehubungan dengan Hari Nakbah yang diperingati setiap tahunnya pada pertengahan bulan Mei, maka Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) menyatakan sikap:

  1. Menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menyuarakan penghentian penjajahan yang dilakukan Zionis Israel diatas bumi Palestina.
  2. Kepada Lembaga Dakwah Kampus seluruh Indonesia yang berada dalam koordinasi FSLDK agar mengadakan Kegiatan DERAP (Dari Rakyat Indonesia untuk Palestina).
  3. Melakukan penggalangan dana yang akan disalurkan melalui program JDN (Jejaring Donasi Nasional) untuk proyek bus sekolah dan pendirian TK FSLDK di Jalur Gaza, Palestina.

Yogyakarta, Mei 2012
BK IDI FSLDK – JAMA’AH SHALAHUDDIN UGM
CP: 081333002642 (Candra)
Sumber : http://www.islamedia.web.id/2012/05/seruan-peringatan-nakbah-ke-64-akhiri.html
Read more »

13 May, 2012

1800 Serdadu Israel Melarikan Diri

Polisi militer Zionis Israel kini disibukkan dengan semakin banyaknya militer yang melarikan diri dari tugas. Pihak yang berwenang menangani indisipliner militer itu “terpaksa” menggelar aksi besar-besaran untuk menangkapi pasukan Israel yang mangkir. Selanjutnya, mereka akan diajukan ke pengadilan karena melanggar hukum Israel dengan ancaman hukuman penjara.

Sebagian besar pasukan yang melarikan diri itu adalah para pemuda wajib militer. Harian Yediot Aharonot melansir, Kamis (10/5) lalu, militer Israel telah mendata 700 pemudi lari dari pengabdian militer. Sementara sebanyak 800 lainnya mundur dengan alasan bohong karena lebih cenderung memilih untuk tekun beragama.

Pimpinan polisi militer Israel mengatakan, jumlah pasukan yang mangkir selama 2010 sekitar 1800 serdadu. Sehingga jumlah mereka yang mangkir hingga tahun ini mencapai 2700 serdadu.

Polisi Militer berencana melangsungkan aksi penangkapan selama dua pekan. Mereka yang telah ditangkap akan diajukan ke pengadilan untuk kemudian dijatuhi hukuman penjara di ruangan yang disediakan khusus untuk mereka selama 28 hari. [IK/Hdy/IP]

copas from : 
http://www.bersamadakwah.com/2012/05/1800-serdadu-israel-melarikan-diri.html
Read more »

17 March, 2012

Ini Masalah 'Taste' dan Hitungan Akhirat

Saat ini dunia sudah semakin menua. Dan penduduknya pun sudah semakin menggila; gila harta, gila jabatan, gila penghormatan, dan lain sebagainya. Sehingga kalau manusia disodorkan pada dua pilihan, kebanyakan akan cenderung memilih pilihan yang paling menguntungkan, tanpa pikir panjang. Mungkin memang menguntungkan secara duniawi, tapi belum tentu menguntungkan secara ukhrowi. Namun, tentunya tidak semua. Karena masih ada segelintir orang yang ‘sehat’. Merekalah orang-orang yang ikhlas dalam ber-Islam.

Ada seorang teman pernah mengajar di sebuah pesantren yang jauh dari tempat asalnya di Tangerang. Ia ditugaskan ke Aceh selama kurang lebih satu tahun lamanya, dengan upah Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah) setiap bulannya. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Singkat cerita, tertunaikan sudah amanah yang dipikulnya. Dan tiba saatnya untuk kembali ke kampung halamannya, Tangerang.


Ketika pulang, ia pun mendapat tawaran untuk mengajar lagi di sebuah pesantren yang tidak terlalu jauh dari kota tempat tinggalnya. Dengan upah Rp 1.700.000 (satu juta tujuh ratus ribu rupiah) perbulan. Tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan upah saat mengajar di Aceh. Namun apa yang terjadi? Ia hanya bisa bertahan selama 1 minggu! Ada apa gerangan? Dari segi fasilitas jauh lebih bagus, ketika mengajar di Aceh tempat tinggalnya amat sangat sederhana, sandal pun ‘halal’ masuk sampai sisi dipan tempat tidur. Ketika di Aceh kasurnya tipis, di tempat mengajarnya yang baru kasurnya tebal, tentu lebih nyaman untuk istirahat. Masalah makan, ketika di Aceh masak sendiri, belanja bahan-bahannya sendiri. Di tempat mengajarnya yang baru, makanan siap tinggal santap! Ketika di Aceh, kalau ada santri yang dijenguk oleh keluarganya, biasanya sebatas makanan-makanan ringan seperti kue-kue kering yang dibawa. Tapi di tempat mengajarnya yang baru, yang dibawa adalah makanan-makanan junk food! Seperti KFC dan sejenisnya. Dan otomatis ada jatah khusus untuk ustadznya :-).


Usut punya usut ternyata ini masalah ’taste’… Bukan sekedar masalah uang, uang dan uang!


Jadi, saat mengajar di Aceh ia terbiasa ‘bergerak’ dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Banyak kontribusi yang bisa ia berikan. Dengan itu ia merasa menjadi orang yang bermanfaat. Namun di tempat mengajarnya yang baru, ruang geraknya terbatas. Meskipun fasilitasnya terlihat lebih menggiurkan, ia merasa lebih nyaman ketika mengajar di Aceh dengan segala kesederhanannya, tapi keberadaannya disana lebih banyak manfaatnya. Dan akhirnya, ia pun berencana untuk kembali lagi ke Aceh, ke pesentren yang sederhana itu..


Kita bisa menyimpulkan, bahwa;

1. Ia telah memperhitungkan dengan ‘hitungan akhirat’. Lebih banyak bergerak, lebih banyak berkontribusi, maka otomatis lebih banyak ia memberikan manfaat. Dan itu kesempatan dia untuk menjadi sebaik-baik manusia di mata Allah swt. Rasulullah saw bersabda;
Diriwayatkan dari Jabir berkata, Rasulullah saw bersabda,”Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni, dishahihkan oleh al Albani didalam “Ash-Shahihah” nya.)

2. Ia telah mengutamakan akhirat dari pada dunia. Ia lebih memilih pekerjaan dengan upah Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah) tiap bulannya tapi ia lebih banyak manfaatnya disana, dibandingkan upah Rp 1.700.000 (satu juta tujuh ratus ribu rupiah) tapi ia sedikit manfaatnya disana. Allah swt berfirman;
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS.An-Nazi’at:37-41)

3. Ia memahami bahwa apa yang di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal. Allah swt berfirman;

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?”
(QS.Al-Qoshosh:60)

Pada akhir tulisan ini, penulis mengutip sedikit kalimat hikmah dari sebagian shohabah dan ulama tentang keutamaan akhirat diatas dunia:

• Ali Ra berkata, "Barangsiapa yang menyembah dunia dan mengutamakannya di atas akhirat, akan mendapat akibat yang buruk".
• Imam Asy-Syafi’I berkata, “Wahai orang yang gandrung dunia, ingatlah dunia ini tidak kekal. Sore dan pagi datang silih berganti.”
• Yahya bin Mu’adz berkata, “Orang mulia tidak akan durhaka kepada Allah, dan orang bijak tidak akan mengutamakan dunia daripada akhirat.”

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang lebih mengutamakan akhirat dari pada dunia, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta jagalah kami dari api neraka.

Wallahu a’lam.[]


Penulis : Oktarizal Rais
Mahasiswa tingkat akhir
di Ma'had Aly An-Nu'aimy, Jakarta
 
http://www.bersamadakwah.com/2012/03/ini-masalah-taste-dan-hitungan-akhirat.html
Read more »

 

PKS TV Sudan