13 November, 2011

Pelajaran dari Khutbah Nabi saw pada Haji Wada’

Risalah dari Prof. DR. Muhammad Badi’, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 03-11-2011

Penerjemah:
Abu ANaS MA
___________

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw beserta keluarga dan para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan hingga hari pembalasan, selanjutnya…

Umat Islam adalah umat yang satu, yang menyatukan umatnya dengan ikatan yang beragam; Tuhannya adalah satu, Rasul-nya satu, kitabnya satu, qiblatnya satu, sementara faktor yang mengokohkan persatuan ini dalam kehidupan umat Islam dan terus diperbaharui adalah beragam seperti yang disyariatkan oleh Allah dari berbagai ibadah untuk kita.

Ibadah shalat, ketika diserukan lalu semua umat bersegera menunaikannya berdiri dalam satu barisan tanpa ada perbedaan diantara mereka baik warna maupun bangsa, kemudian hadir pula shalat Jum’at, guna mengumpulkan umatnya dalam satu tempat (lingkungan), dan dalam ibadah shalat ied, mengumpulkan dan menyatukan umat satu bangsa dalam satu tempat (lapangan) baik laki-laki, wanita dan anak-anak, sehingga meluas perasaan bahagia, meninggi perasaan senang, hati-hati bersatu dan tangan saling berpegangan (bersalaman) untuk saling memberikan ucapan selamat.

Dalam ibadah haji, hadir umat manusia yang berasal dari daerah (negara) jauh dari berbagai benua untuk berkumpul dalam satu tempat bernama Arafah, berasal dari beragam bangsa, warna, bahasa dan tingkatan; untuk mengumandangkan kalimat dengan penuh kekhusu’an dan ketundukan:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Aku memenuhi panggilanMu ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi panggilanMu tiada sekutu bagiMu aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujaan dan ni’mat adl milikMu begitu juga kerajaan tiada sekutu bagiMu.

Ia adalah ibadah yang penuh ketulusan karena Allah, ikatan ukhuwah antara bangsa yang ada dimuka bumi secara keseluruhan, yang disatukan oleh Allah dengannya hati-hati umat Islam, sebagaimana firman Allah:

وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan jika mereka bermaksud menipumu, Maka Sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan Para mukmin, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana”. (Al-Anfal:62-63)

Ukhuwah inilah yang tampak dalam puncak haji di padang Arafah dengan ikatan suci di tengah umat Islam yang telah Allah wajibkan atas kita, dan diwajibkan atas umat Islam untuk senantiasa merasakan sebagian mereka dengan yang lainnya saat senang dan susah, sempit dan lapang, ikut serta dalam bergotong royong untuk kepentingannya, saling membantu dalam menghilangkan berbagai penyakit dan musibah pada saat diantara tertimpa suatu musibah, berusaha menolak tindak permusuhan jika terdapat permusuhan atas setiap bangsa muslim, dan maju dengan jiwa yang baik sehingga mampu menebar manfaat dan kebaikan; sehingga bangsa muslim senantiasa menjadikannya teladan bagi umat Islam sebagian mereka dengan yang lainnya dalam berbagai kondisi terutama kondisi sulit dan susah, dan dengan demikian-kelak- mampu merealisasikan kasih sayang dan mengasih diantara mereka, sebagaimana sabda nabi saw:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaih dari al-Nu’man bin Basyir)

Wahai dunia seluruhnya.. wahai umat Islam sekalian…

Bahwa khutbah Nabi pada haji wada’ merupakan dustur -undang-undang- yang komprehensip untuk pembangunan umat Islam, titik tolak untuk membersihkan umat manusia seluruhnya dari kesengsaraan dan kesulitan, dan menjadi dasar yang mampu membuka pintu-pintu kesejahteraan dan keamanan bagi setiap insan yang telah diciptakan Allah dan hidup dibawah naungan syariatnya, apakah orang yang beriman atau bukan, bahkan sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi setiap manusia kebenaran mutlak dalam memilih agama, melarang melakukan pemaksaan. Allah berfirman:

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam beragama”. (Al-Baqarah:256)

Dan Allah juga berfirman untuk nabi-Nya seperti dalam Al-Qur’an:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?”

Inilah beberapa ketetapan agama yang dikumandangkan oleh Rasulullah saw pada khutbah haji wada’, dan kita bersaksi bahwa beliau telah menyampaikannya, dan menanggung beban amanah umat untuk menyampaikan.

Dan dalam risalah ini saya ingin menyampaikan beberap intisari dari khutbah nabi saw, sebagai bagina menyampaikan amanah yang dititipkan Allah kepada kita, dan nabi telah sampaikan untuk dapat menyampaikan lagi kepada yang lain. seperti sabdanya:

“Sampaikanlah yang berasal dariku walaupun hanya satu ayat”.


Ukhuwah diantara seluruh manusia

Nabi saw dalam khutbahnya meletakkan dua pondasi utama untuk kesatuan manusia

Pertama: bahwa Tuhan mereka satu, karena itu tidak ada ruang memberikan keutamaan bagi setiap bangsa atas bangsa lain, nabi saw juga bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ؛ لا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلا لأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، وَلا لأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ إِلاَّ
بِالتَّقْوَى، إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai manusia ketahuilah bahwa Rob-mu satu, bapak-mu satu, .. tidak ada kelebihan bangsa Arab atas bangsa lain, dan tidak ada pula kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab, dan tidak pula warna hitam atas warna merah atau warna merah atas warna hitam, kecuali dengan taqwa….Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling ber-takwa di antara kalian.”


Kedua: bahwa asal manusia adalah satu; yaitu dari tanah kita diciptakan dan ke dalam tanah kita dikembalikan. nabi saw bersabda:
أَلا إِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ نَخْوَةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَتَكَبُّرَهَا بِآبَائِهَا؛ كُلُّكُمْ لآدَمَ، وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ، وَأَكْرَمُكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ
“Ketahuilah bahwa Allah SWT telah menghilangkan dari diri kalian kemegahan jahiliyah dan kebanggaan terhadap nenek moyangnya; kalian semua berasal dari nabi Adam, dan nabi Adam berasal dari tanah, dan orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang bertaqwa”

Dari titik tolak inilah Islam memandang semua manusia berasal dari ciptaan Allah, dan bahwa asal muasalnya adalah satu, maka seluruhnya hidup dalam satu naungan dan sejarah adalah saksi nyata dan sebaik-baik saksi; di Mesir, Syam dan seluruh negeri yang ditaklukkan oleh Islam tidak pernah memaksa siapapun untuk mengganti agamanya -maka ada diantara yang tetap kepada agamanya dari kaum nasrani, berpegang teguh dengan agamanya dan menunaikan syiar-syiar mereka; sebagai dalil paling benar – dan tidak menzhalimi siapapun dalam naungannya; semuanya berserikat dalam sat negara, mereka mendapatkan apa yang kita dapatkan dan terhukum atas mereka seperti yang kita dapatkan pula.. dan Allah tidak pernah menzhalimi siapapun.

Persatuan dalam berpegang teguh kepada tali Allah yang kokoh
Wahai umat Islam, bahwa perpecahan dan pertikaian yang dapat melumpuhkan dan melemahkan kekuatan tubuh bangsa, bahkan melukai hati-hatinya; memberikan kepuasan dan ketamakan pada setiap pelaku perampasan melakukan campur tangan dalam melecehkan kehormatannya, merampas sumber daya alamnya, menginjak-injak tempat-tempat sucinya, sebab utamanya adalah lemahnya kekuatan kita, dan itulah penyebab gagalnya umat untuk bersatu

وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu”. (Al-Anfal:46)


Dan nabi saw telah memberikan arahan kepada kita jalan menuju hidayah dan selamat dari kesesatan, dan bahwasanya rujukan setiap muslim harus berasal dari kitab Allah dan sunnah nabi saw; nabi telah bersabda:

“Telah aku tinggalkan kepada kalian yang jika kalian berpegang teguh maka kalian tidak sesat selamanya kitabullah dan dalam riwayat lain:
Kitabullah dan sunah nabi-Nya..

Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (Ali Imran:103)

وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

“Dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong”. (Al-Hajj:78)

Dan dalam renungan arafah ini menjadi sarana utama dalam menerapkan persatuan ini; bahwa seluruh umat Islam berada dalam satu tempat, satu baju, bergerak dalam satu gerakan sejak naik hingga turun dari arafah, satu dalam melaknat syaitan, dan kesatuan inilah merupakan jalan satu-satuya untuk memelihara kemerdekaan kita dan mengembalikan kehormatan dan kemuliaan kita.

Setiap muslim harus menyadari bahwa tidak akan baik perjalanan hidup suatu umat kecuali kebaikan sejak awalnya, dan kebaikan pertama umat ini adalah dengan berpegang teguh kepada kitabullah dan sunnah rasul-Nya. dan inilah jalan kita menuju kemenangan,kejayaan, ketentraman dan keamanan. dan ini pula yang merupakan dasar-dasar pemahaman yang detil dan keimanan yang mendalam menurut Ikhwanul Muslimin; imam Al-Banna berkata:

والقرآن الكريم والسنَّة المطهَّرة مرجع كل مسلمٍ في تعرُّف أحكام الإسلام

“Dan Al-Qur’an dan sunnah yang suci adalah rujukan setiap muslim dalam memahami hukum-hukum Islam”


Membangun kesadaran diri


Bahwa pembangunan umat dan kebangkitannya tidak akan sempurna kecuali dengan memiliki para aktivis (generasi) yang memiliki kesadaran yang bersumber dari diri mereka, perasaan adanya tanggung jawab dan dipertanggungjawabkan dihadapan Zat yang Maha Pemantau dan tidak pernah luput dari mereka, tidak ada yang dapat disembunyikan sedikitpun dihadapan-Nya, inilah yang datang pada sabda nabi saw:
وستلقَوْن ربكم فيسألكم عن أعمالكم، وقد بلَّغت؛ فمن كان عنده أمانة فليؤدِّها إلى من ائتمنه عليها

“Kelak kalian akan berjumpa dengan Rabb kalian dan ditanyakan amal perbuatan kalian, dan sungguh aku telah menyampaikan; maka barangsiapa yang memiliki amanah hendaklah menunaikannya kepada yang diamanahkan atasnya”

Wasiat untuk wanita

Sejak dahulu kala dan setiap pembenci Islam menjadikan wanita sebagai corong untuk mendapatkan kedudukan dalam agama, dan persepsinya seakan Islam mengabaikan wanita dan tidak menghargai hak-haknya, padahal Rasulullah saw telah mewasiatkan kepadanya dalam khutbah haji wada’ yang menyeluruh; beliau bersabda:

أَلاَ وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Ketahuilah, berikanlah wasiat kepada wanita hal-hal yang baik”.

Telah dijelaskan untuk mereka hak-haknya seperti hal-hal yang menjadi kewajiban atas mereka; Allah berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf”. (Al-Baqarah:228)

Sebagaimana Islam juga menegaskan adalah loyalitas diantara orang-orang laki-laki dan wanita, dan peran serta mereka dalam mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Allah berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (At-Taubah:71)

Dan ganjaran laki-laki dan wanita dalam amal perbuatan adalah sama. Allah berfirman:

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain”. (Ali Imran:195)


Dan tidaklah kita melakukan ibadah sa’i antara bukit shafa dan Marwah -yang merupakan rukun haji dan umrah- kecuali mengerjakan apa yang telah dilakukan oleh sayyidah Hajar, mengikuti jejaknya sebanyak 7 kali putaran?!

Diharamkannya darah, harta dan kehormatan

Betapa manusia saat ini membutuhkan sesuatu yang mampu mendobrak semuanya; jiwa terbunuh, harta terampas, kehormatan terhinakan, rumah dihancurkan, tempat-tempat suci seperti masjid dan gereja dibombardir dengan senjata perang penhancur masal… betapa dunia saat ini membutuhkan apa yang telah dimaklumatkan oleh nabi saw sejak 15 abad yang lalu dalam sabdanya:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian haram atas kalian, sebagaimana keharaman hari kalian ini, di negeri kalian ini, dan di bulan kalian ini. Sungguh kalian pasti bertemu Rabb kalian, dan Dia menanyakan semua amal perbuatan kalian. maka sepeninggalku, janganlah kalian kembali kepada kesesatan, sebagian kalian membunuh yang lainnya”. (Bukhari)

Ketahuilah wahai manusia bahwa harta umum (fasilitas umum) adalah milik seluruh umat Islam, dan harus senantiasa digunakan untuk kemaslahatan agama dan dunia; karena dilindungi oleh ketentuan syariat seperti perlindungan harta khusus (milik pribadi), namun harta umum (milik umum) lebih keras lagi pengharamannya; karena banyak hak yang berhubungan dengannya, banyak pemilik harta tersebut; karena itu melakukan pelanggaran atasnya akan lebih besar dosanya disisi Allah daripada melanggaran atas milik pribadi.
Menghentikan perang diantara kaum muslimin… dan menghilangkan kezhaliman:
Bahwa dunia Islam saat ini sangat membutuhkan akan adanya wasiat nabi saw tentang dilarangnya melakukan pembunuhan sebagian kita dengan sebagian lainnya, dan menghilangkan kezhaliman di tengah umat manusia;

فعَنْ جَرِيرٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَهُ فِي حَجَّةِ الوَدَاعِ: “اسْتَنْصِتِ النَّاسَ” فَقَالَ: “لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا؛ يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ”، وفي رواية: “وَلاَ تَظْلِمُوا”.

Dari Jarir ra bahwa Rasulullah saw. berkata kepadanya saat haji wada’: buatlah umat manusia damai. beliau bersabda: , ‘Janganlah kalian kembali menjadi kafir setelahku nanti sehingga kalian saling bunuh membunuh’,” (Bukhori dan Muslim)


Nabi saw juga mengabarkan bahwa apa yang terjadi di tengah umat Islam dari berbagai pertikaian dan pembunuhan dari bagian dari adu domba syaitan. Nabi saw bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya iblis telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang sholeh, tetapi ia berusaha mengadu domba di antara mereka.”


Dan kita pada saat melakukan rajam terhadap syaitan pada beberapa hari berturut-turut, merupakan pelajaran yang sangat jelas bahwa kita merajam syaitan pada setiap bisikan dalam diri kita, karena itu jangan sampai kita mau diadu domba dan menjadikanya sebagai musuh abadi sebagai yang diperintahkan Allah SWT kepada kita

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”. (Fathir:6)

Wahai umat Islam dimana saja kalian berada, sadarlah wahai orang yang telah menumpahkan darah diantara kalian bahwa itu semua merupakan adu domba syaitan; janganlah mengikuti jejaknya, dan sadarlah bahwa kelak Allah akan menanyakan hal itu; hati-hatilah terhadap siksaan; karena Rasulullah saw memasukkan sebagai dosa besar seperti sabdanya:

لَزوالُ الدنيا أهونُ على الله من قتل نفسٍ مؤمنةٍ

“Hilangnya dunia masih lebih ringan dihadapan Allah dari terbunuhnya jiwa orang beriman”.

Dan sadarlah orang yang melakukan kezhaliman yang menindas bangsanya bahwa Allah senantiasa mengawasi dan mengintai mereka, dan akan membalas kepada siapa saja yang melakukan perbuatan jahat. Allah berfirman:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa” (As-Sajdah:6)


Riba penghancuran ekonomi

Bahwa pada saat syariat mengharamkan riba karena pengharamannya terdapat di dalamnya tindak kezhaliman, terkait dengan adanya kerusakan (kecuragan), dan dunia tidak menyadari hakikatnya kecuali setelah diterpa krisis ekonomi sekarang ini; sehingga mendorong kesadaran bahwa untuk keluar dari krisis global saat ini adalah melakukan mengembalikan bunga (riba) ke titik nol, dan inilah yang diwasiatkan oleh nabi saw pada saat khutbah haji wada’:

كل ربًا موضوعٌ، ولكم رءوس أموالكم لا تظلمون ولا تُظلمون.. أَلا هَلْ بَلَّغْتُ؟! اللهم فاشهد

“Seluruh riba adalah buatan, dan milik kalian harta modal kalian, janganlah kalian menzhalimi dan dizhalimi… ketahuilah apa aku sudah menyampaikan?! ya Allah saksikanlah”.


Wahai umat Islam secara umum
Ikhlaskanlah diri kalian dalam beragama karena Allah, serahkanlah kepemimpinan kalian dengan mengikuti abul anbiya Ibrahim AS. seperti dalam firman Allah:

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. (Al-Baqarah:131)

Dan jujurlah kalian dalam berbicara, bekerja dan berjihad, kelak Allah akan senantiasa bersama kalian
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (Al-Ankabut:69)

Dan marilah kita muliakan diri kita dengan akhlak kita yang merupakan buah dari kewajiban dalam ibadah-ibadah kita; dalam ibadah haji tidak mengucapkan kata-kata kotor, tidak bertindak fasik, tidak bermaksiat bahkan hingga pada tindakan bertengkar; bagaimana dengan yang lebih besar dari itu?! adapun ibadah shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan ibadah puasa jika tidak mampu mencegah dari ucapan dusta dan tetap melakukannya maka Allah tidak membutuhkan darinya dalam meninggalkan makan dan minum.

Janganlah takut pada musuh-musuh kalian, sekalipun persenjataan dan jumlah kalian sedikit; karena Allah senantiasa bersama kalian, dan jika Allah bersamanya maka akan terus bersama-Nya segala sesuatunya, dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka akan hina oleh-Nya segala sesuatu, dan bagi kalian dalam diri nabi Ibrahim telah, pada saat berhadapan dengan raja Namrudz dan tidak sama sekali akan api yang ada dihadapannya, tidak goyah imannya, sementara syiarnya adalah

“Cukuplah Allah sebagai pelindungku dan dialah sebaik-baik pelindung”


Maka Allah pun menjadikan api dingin dan keselamtan untuknya; karena itu seorang muslim yang jujur, iman yang kuat, hatinya tenang; dunia disekitarnya akan bergetar seperti halnya batu yang besar; tidak mampu digerakkan oleh angin topan sekalipun dan tidak berpengaruh apapun dengan berbagai ujian; karena itulah Allah memberikan karunia kepada pemilik kekuatan dan potensi, dengan memerintahkan kepada api
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ

“Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (Al-Anbiya:69)


Karena itu wajib bagi kita mengokohkan jiwa untuk berkorban dengan harta dan jiwa di jalan Allah SWT, sungguh betapa besar pelajaran dan kebenaran saat nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Hajar mengapresiasi dan menerima perintah Allah untuk menyembelih Ismail AS. Allah berfirman:
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. (As-shaffat:102)

Bergembiralah dengan masa depan yang cerah
وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Yusuf:87)


Dan dalam diri Hajar adalah teladan untuk kalian pada saat beliau mancari air… naik ke bukit shafa namun tidak mendapatkan apapun, lalu pergi menuju bukit marwah namun juga mendapatkan sesuatu, dan beliau tidak berhenti tapi berusaha sekali dan dua kali hingga tujuh kali; dan ketika Allah menerima usaha dan kesungguhannya maka Allah memancarkan air dari batu.

Ketahuilah wahai umat Islam bahwa dalam haji ada sarana dihapusnya dos-dosa. seperti sabda nabi saw
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

”Barangsiapa yang haji dan tidak melakukan perbuatan rafats (kata-kata kotor) dan tdiak fasik, maka dia akan kembali seperti baru dilahirkan dari rahim ibunya”.
مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ غُفِرَ لَهُ سَنَةٌ أَمَامَهُ وَسَنَةٌ بَعْدَهُ

Dan bagi siapa yang tidak menunaikan ibadah haji maka baginya ada puasa arafah. nabi saw bersabda:
Puasa hari arafah akan diampuni dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya”.

Dan ketika jiwa umat sudah bersih dari dosa-dosa maka Allah akan menerima seluruh doa-doanya, memberikan kemenangan atas musuh-musuhnya dan akan diturunkan rahmat kepadanya.

Karena itu marilah kita bekerja dan menyeru kepada agama Allah, kita sebarkan nilai-nilai dan akhlak mulia, kita beri motivasi dan dorong anak bangsa untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan ikhlas untuk membangun negeri kita dan bangkita dengannya, dan kita perlihatkan dihadapan Allah keikhlasan kita niat, amal yang jujur dan teguh dengannya, sehingga niscaya akan turun atas kita rahmat dari Allah, diberikan kebaikan dan keberkahannya, serta dipenuhi perasaan tentram dan aman; karena doa dan ujian akan senantiasa beriringan; maka perbanyaklah doa.

Saya wasiatkan kepada para hujjaj (pelaksana ibadah haji) dan ummar (pelaksana ibadah umrah) untuk senantiasa bersimpuh dan memperbanyak doa,khususnya pada hari arafah, semoga Allah memberikan kebaikan dan perbaikan pada kondisi umat seluruhnya, dan mengembalikan kepadanya secara baik-baik; marilah kita mengulang doa ini
اللهم اجعله عيدًا سعيدًا على الأمتين الإسلامية والعربية، وأتمم نعمتك على شعوبنا المجاهدة بأن ترزقهم حكامًا صالحين يتَّقون الله فيهم، ويرعون مصالحهم رعايةً كاملةً، كما يُقسمون بالله عند تولِّيهم

“Ya Allah jadikanlah hari ied yang penuh kebahagiaan atas umat Islam dan bangsa Arab, sempurnakanlah ni’mat-Mu atas bangsa kami yang memiliki kesungguhan dan perjjuangan dengan rezki berupa pemimpin yang shalih dan bertaqwa kepada Allah, memperhatikan kemaslahatan umat secara sempurna, sebagaimana yang telah mereka bersumpah atas nama Allah saat diangkat dan dilantik menjadi pemimpin”.


إِنْ أُرِيدُ إِلا الإصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali”. (Huud:88)

Sumber : http://www.al-ikhwan.net/2011/11/4673/pelajaran-dari-khutbah-nabi-saw-pada-haji-wada/

0 komentar:

Post a Comment

 

PKS TV Sudan